Setiap Kita Adalah Mantan Bagi Orang Lain

Kadang banyak yang nggak sadar kalo setiap kita adalah mantan bagi orang lain. Kecuali kalo kita belum pernah pacaran sama sekali. Udah nggak asing lagi kalo banyak dari kita suka mejelekkan mantan (hayo ngaku!), padahal (sekali lagi) kita sendiri adalah mantan bagi orang lain.

Kata mantan terkadang sungguh fragile artinya bagi sebagian orang. Kadang ada yang langsung pengen muntah pelangi ketika menyebut kata mantan, kadang ada juga yang langsung baper teringat kisah masa lalu, kadang ada yang belum juga move on (mungkin jenis orang seperti ini musti belajar dari Aurel Hermansyah circa 2012) dan ada juga yang suka ngomongin mantan karena baginya mantan itu biasa saja; bukan hal yang musti dimuntahin atau di baper-in atau ditangisi atau di jorogin ke kolam ikan julung-julung.

Ada hal yang cukup menggelitik pikiran saya tentang mantan belakang ini (tulisan ini dibuat bukan untuk mengenang mantan saya, red). Beberapa waktu yang lalu, saya pergi makan sore (karena sudah lewat jam makan siang dan belum juga menjelang makan malam) di sebuah Food Court. Saya bertemu dengan dua orang teman. Saya lupa bridging awalnya sampai tiba-tiba dua orang teman saya ini mengangkat topik mantan.

Kami bertiga setuju dengan statement “it’s okay to be in a relationship with your ex’s bestfriend”. Kenapa mereka mendukung statement ini? Baru-baru ini, teman kami berada di posisi statement tersebut. Kalo dipikir-pikir, sepertinya terjadi ke-awkward-an yang super duper mega lebay adanya. Mungkin hal ini hanya terjadi di awal. Tapi nyatanya mereka semua masih menjalin pertemanan dengan rukun dan damai. Berdasarkan pengakuan salah satu teman kami, mereka memang merasa awkward di awal. Kemudian, yasudah. Semua berjalan biasa saja dengan apa adanya. Why? They simply don’t give a shit dan sama-sama sudah dewasa. Toh udah nggak ada hubungan apa-apa lagi diantara para mantan tersebut.

Bagi saya, sesungguhnya, ini bukan hal baru. Karena saya sudah pernah melihat secara langsung (bahkan proses dimulainya) circumstances seperti ini saat saya masih SMA. Bahkan waktu kuliah pun hal ini kejadian lagi.

Kemudian, saya dan kedua teman saya ini pun membahas lebih lanjut. Kami menganggap bahwa tidak ada hal yang salah dari keadaan seperti ini. All is fair in love and war. Witing tresno jalaran seko kulino.

Justru (menurut kami) pelakunya itu sendiri yang terkadang membuat rumit. Ada yang melawan perasaannya sendiri dan ada yang sok tegar gak pengen ada di situasi seperti ini padahal sebenernya mah mau banget. Bagi kami orang luar yang melihat, sesungguhnya kami tidak terlalu peduli. Toh yang menjalani adalah mereka-mereka yang ada di dalam situasi tersebut.

Kesimpulannya adalah, it’s okay to be in this circumstances. Silahkan menjalani bagi yang menunaikan. Kami sebagai penonton hanya menerima insight dari kegiatan ini. Hahahaha. Ya begitulah.

Sekali lagi, setiap kita adalah mantan bagi orang lain. Gak perlu nge-judge bla bla bla. Santay aja, Bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s