Reading Centhini: 4 Kesalahan Fatal Pacar Gw

Disclaimer:

Cerita ini sudah jelas bukan mengenai pacar gw maupun kehidupan percintaan gw.

IMG_1811

“If you are sad, you read Centhini, your sadness will be gone. If you are sick, Serat Centhini gives you the knowledge of natural remedies. If you want to slaughter a buffalo, Serat Centhini tells you the steps. If you want to build a house, Serat Centhini tells you all the calculations of measurements and good dates to build it. If you want to find God, Serat Centhini shows you the way.”

Potongan tulisan di atas adalah salah satu bagian favorit gw dari rekap Reading Centhini: Bukan Cinta Satu Malam. Reading Centhini sendiri adalah sebuah pertunjukkan yang diadaptasi dari buku Serat Centhini. Pertunjukkan ini digagas oleh Agnes Christina yang juga penulis naskah, sutradara, produser, pemain, poster designer, costume designer, dan juga ia pun menjual tiket pertunjukkannya sendiri.

Serat Centhini itu sendiri sesungguhnya adalah salah satu karya sastra terbesar Jawa Baru yang berisi ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial, politik, spiritual dan tata cara hidup. Buku ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dan terdapat sebanyak 12 jilid.Dalam kehidupan sehari-hari, buku ini sering disalah artikan sebagai Kamasutra Jawa. Buku ini dibuat atas kemauan seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV yang kemudian akan bertahta sebagai Sunan Pakubuwono V.

Sekitar tahun 2013, Agnes memiliki peran yang cukup besar dalam membantu gelar pamit yang gw dan teman-teman gw bikin dari komunitas tari tradisional gw saat itu. Agnes menulis naskah untuk transisi pergantian tari yang dibacakan dengan format tembang macapat, juga membantu dalam urusan tata lampu dan properti panggung. Tahun itu project Reading Centhini sudah berjalan, diawali dari pertunjukkan pertamanya di Substation Singapura. Maka, naskah pertunjukkan gw yang bertajuk “Benang Merah” jelas terinspirasi dari Serat Centhini. Selama pre-produksi, pertemuan gw dan Agnes selalu diisi dengan cerita-ceritanya mengenai masa depan Reading Centhini (selain pembicaraan mengenai produksi gelar pamit). Karena pada masa itu pertunjukkannya hanya di tampilkan di Singapura dan beberapa kota di pulau Jawa, gw belum sempat menyaksikan Reading Centhini secara langsung. Gw cuma tau dari Blog, Instagram,Twitter dan dari pesan-pesan Whatsapp Agnes yang suka dia kirimkan begitu saja di waktu-waktu yang tak terduga.

Perkenalan gw dan Agnes terjadi di tahun 2009 ketika kami berdua masih sama-sama kuliah di Singapura. Waktu itu Agnes bertindak sebagai Produser dalam drama musikal Mahabrata yang di selenggarakan oleh anak-anak Indonesia di Singapura per dua tahun sekali baik oleh pelajar maupun profesional. Awalnya gw ngelamar jadi talent manager di acara ini, tapi apa boleh buat, gw di terima sebagai penari yang menari hampir di seluruh scene dalam drama musikal tersebut. Persiapan dilakukan hampir satu tahun, dari situ kami lumayan banyak mengobrol, tapi entah bagaimana ceritanya, kami lebih banyak ngobrol setelah gw for good ke Indonesia. Drama musikal ini (ternyata) memiliki peran penting dalam kehidupan gw sampai sekarang termasuk perkenalan dengan mantan pacar gw (bagian ini boleh diabaikan).

Singkat cerita, ahir Mei 2016 gw berkesempatan menyaksikan Reading Centhini: Suluk Tambangraras di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Cerita dalam judul ini mengisahkan Anak-Anak Sunan Giri dari Kerajaan Mataram yang meninggalkan tanah mereka untuk berkelana. Agnes menggunakan medium lukisan yang dibuat oleh Popok Triwahyudi, Tata lampu yang cukup dramatis dan properti sederhana. Hal yang mencuri perhaian gw dari pertunjukkan ini adalah lagu-lagu dangdut yang dinyanyikan sendiri oleh Agnes komplit beserta jogetan asoy geboynya juga adegan masak mie instant dan memakannya sambil nyanyi dangdut.

Menariknya dari pertunjukkan ini, Agnes membawakanya dalam beberapa layer. Kisah Amongraga di twist dengan kisah kehidupan pribadinya (yang sesungguhnya gw sudah hafal di luar kepala semua cerita tersebut). Cerita tentang seorang perempuan Indonesian Born Chinese menghadapi kerusuhan di tahun 98, cerita nenek moyangnya, cerita tentang perempuan yang nggak bisa menentukan masa depannya sendiri, kisah kegalauan hidup, kisah cinta dan juga masa depan yang ideal menurut seorang Agnes. Gw nggak ada ekspektasi apa-apa tentang pertunjukkan ini, gw cuma mau membayar lunas rasa penasaran gw akan Reading Centhini yang biasanya cuma gw dengar dari Agnes.Pada hari itu, hari Sabtu, keadaan emosional gw sangatlah tidak stabil dan Jakarta diguyur hujan yang cukup deras. Gw baru aja diterpa sebuah kenyataan yang cukup berat dan harus gw terima tanpa perlawanan sedikit pun. Semua cerita kehidupan Agnes yang sudah pernah gw dengar ratusan kali, langsung terasa masuk akal dan gw pun merasa “dekat” dengan apa yang dia rasakan akan problematika kehidupannya tersebut.

Agnes tidak secara terang-terangan menceritakan kehidupan pribadinya. Cerita dibuka dari ia mengenalkan pacarnya yang memilik 4 kesalahan fatal.

IMG_1816

Adegan makan mie instant di sebelah lukisan bergambar pacarnya yang memiliki 4 kesalahan fatal.
  1. Perbedaan usia yang cukup jauh
  2. Beda Agama
  3. Pribumi
  4. Full time seniman

Bagian ini, menurut gw, cara yang menarik untuk adegan pengenalan tokoh karena gw langsung mengingat semua kesalahan fatal si pacar. Kemudian cerita rumitnya kehidupan pun bergulir. Dari mulai bagaimana dia dan keluarganya menyelamatkan diri dan harta benda dari kerusuhan 98, usaha untuk mendapat restu, mengurus surat-surat pengantar dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan bla bla bla yang ribetnya stengah mati, kegalauan mengenai pernikahan beda agama dan ras dan seterusnya dan seterusnya. Akan tetapi, kisah ini tidak ia selesaikan sampai tamat. Penonton dibiarkan menggantung tanpa tau apakah Agnes berhasil melangsungkan pernikahannya atau tidak, bagaimana Agnes menyelesaikan masalah perbedaan agama, apakah dia pulang ke rumah ibunya kembali atau tidak dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

My personal favorite quotes from Reading Centhini: Suluk Tambangraras:

  1. “Hari ini 18 tahun yang lalu gw pulang ke rumah dari hotel setelah kerusuhan reda. Entah gimana caranya gw selamet sampe rumah, mungkin tanpa gw sadari, gw diperkosa di tengah jalan.”
  2. “Gw selalu mencari waktu yang tepat untuk ngasih tau orang tua gw, tapi yang namanya waktu, nggak pernah tepat”
  3. “Maaf itu mahal harganya”

Moral of the story:

Di luar sana, banyak orang yang kisah hidupnya lebih pelik dari kita. Terutama masalah percintaan. Jadi, buat loe-loe semua yang merasa galau akan kehidupan, santai aja, bro, sist. Temen kita banyak! Semangat.

IMG_1803

Selamat ngabuburit dan salam olahraga.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s