Her Morning Elegance

On one foreign morning in Cimahi we woke up way earlier than usual. The weather was so chilly and a bit cloudy. I stayed at my friend’s house, Bayu, together with his wife and our close friend which located in Cimahi. We left home at 6 am and directly head to Ciwidey. It was my first time visiting Ciwidey. We chose Ranca Upas as our destination to play along with a bunch of deer (and take a lot of pictures of course). This place is the place where you can do camping, barbeque-ing, or just visiting to see the beautiful scenery.

The first time we arrived the weather was a bit windy and foggy, but not long after that the sun shines beautifully and gave us warmth. We took a lot of photos, because the area was so photogenic and lots of spots to explore. We chose a certain area to topping up the ray of light to our photos (this kinda thing definitely makes us, girls, happier and can’t wait to post it to Instagram).

Not forget to mention, We had the best Indomie we’ve ever tasted.

Processed with VSCO with hb2 presetOne Chilly morning in Ranca Upas
Processed with VSCO with hb2 presetThis photo was taken not long after the appearance of the sun
Processed with VSCO with hb2 preset
Processed with VSCO with hb2 presetKyoot lil’ Bamby

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 presetUh! I’m looking for snacks
Processed with VSCO with hb2 presetYay! Got one.
Processed with VSCO with hb2 presetFinally, someone stuffed me with my favorite snack.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 presetLet’s move into the other side
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Processed with VSCO with hb2 presetThe appearance of the sun makes this girl really happy
Processed with VSCO with hb2 presetOh look! That lovebirds tho
Processed with VSCO with hb2 presetHead to my Instagram:
instagram.com/rereanindita

 

Pagi Hening di Rawa Pening

Waktu itu teman gue yang bernama Seto sedang melakukan perjalanan mudik ke kampung halamannya. Tidak sekedar mudik, namun ia pun tidak lupa berjalan-jalan di sekitar kampung halamannya. Sampai pada suatu saat ia memposting satu foto yang sangat menarik di Instagramnya. Pada kolom caption, Kak Seto (begitu gue memanggilnya, tapi bukan Kak Seto yang menciptakan si Komo), menjelaskan lokasi, jam dan siapa yang memotret fotonya dengan pose yang membelakangi kamera.

Tidak lama setelah doi memposting fotonya tersebut gue menyinggahi Salatiga yang rute perjalanannya melewati lokasi foto tersebut. Gue menginap semalam di Semarang dan paginya gue melanjutkan perjalanan ke Salatiga. Rute yang gue lewati pada saat itu adalah via lingkar selatan Ambarawa. Sesampainya di sana, gue pun riang gembira karena cuaca cerah dan udara yang enak.

Processed with VSCO with hb2 presetSuasana perjalanan dari Semarang menuju Salatiga sebelum mampir ke Rawa Pening. Jalanan aspal yang diapait oleh hamparan sawah dengan dikelilingi oleh Gunung Merbabu, Telomoyo dan Ungaran.
Processed with VSCOcam with hb2 presetLokasi, pose, angle dan fotografer yang sama seperti Kak Seto. Untuk mengelilingi rawa, kami menyewa kapal yang berkeliling selama kurang lebih empat puluh lima menit. Jika bepergian dalam grup, satu kapal bisa disewa tanpa bergabung dengan orang lain.
instagram.com/rereanindita

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 presetTanaman eceng godong yang tumbuh subur dan banyak di jumpai ketika berkeliling rawa.
Processed with VSCO with hb2 presetSejauh mata memandang berkeliling; eceng gondong, Gunung Merbabu, Telomoyo dan Ungaran.

Processed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetinstagram.com/rereanindita

Processed with VSCO with hb2 preset

Waktu yang pas untuk berkunjung ke Rawa Pening adalah saat matahari terbit atau sebelum jam sebelas siang. Pagi hari udara dan keheningan masih terasa di Rawa Pening.

Kretek dan Museum Avant Garde

Kudus Kota Kretek

Tulisan itu berdiri tegak menantang saat kita mulai memasuki kota Kudus. Kota ini memang kota penghasil kretek terbesar di Indonesia dan di kota ini pula terdapat banyak pabrik kretek. Termasuk pabrik kretek milik orang terkaya di IndonesiaKota ini sendiri terletak di Jawa tengah dan berbatasan langsung dengan Pati, Demak serta Jepara.

Ngomong-ngomong soal Kudus kota kretek, disini pula terdapat Museum Kretek. Banyak hal (yang menurut saya) agak random yang saya temui di dalam museum ini. Sebut saja cukup avant garde karena saya belum pernah mendatangi museum dengan banyak hal di dalamnya. Hehehehe. Letak museum ini di Jl. Getas Pejaten, dengan lahan yang sangat luas. Sebelum masuk ke dalam museum, pengunjung diwajibkan untuk membayar retribusi sebesar dua ribu rupiah.

Lahan parkir di museum ini cukup luas dan begitu memasuki area museum, kita akan disambut oleh patung yang terlihat seperti keluarga petani tembakau dengan tulisan “Museum Kretek Kudus” di bagian tengah. Di sebelah kanan gerbang, kita akan menemui playground dan rumah adat Kudus. Gedung museumnya sendiri terletak di bagian tengah. Gedung tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan luasnya lahan museum.

Begitu masuk, kita akan disambut dengan kaca display tempat penjualan souvenir. Kaca display ini langsung menjadi pusat perhatian saya ketika pertama kali masuk ke dalam museum. Mungkin saya agak salah foheus, bukanya menikmati museum tetapi malah sibuk ngeliatin display. Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa saya sedang berada di Museum Kretek Kudus, tetapi salah satu souvenir yang dijual adalah gantungan kunci Menara Eiffel seharga empat ribu rupiah (Oke… ini cukup random sih). Selain itu terdapat cincin batu (bukan batu akik) warna – warni, yang lagi-lagi saya kurang tahu apa hubungannya dengan Museum Kretek.

Setelah itu, pikiran saya masih dipenuhi dengan souvenir yang kurang ada hubungannya dengan museum. Akhirnya saya berjalan keliling museum dengan tetap memikirkan gantungan kunci Menara Eiffel.

Diawali dari ruang kerja Bapak Nitisemito, di ruangan kecil itu terdapat meja bundar dan kursi serta patung Bapak Nitisemito yang sedang melongok di Jendela. Si bapak ini adalah raja kretek dan bisa dikatakan Bapak Nitisemito adalah penemu kretek.

 

Seperti di Museum Sampoerna, di sini juga terdapat warung-warungan dengan patung bapak penjualnya. Selain itu terdapat diorama tentang pembuatan kretek, jenis-jenis tembakau serta jenis-jenis kertas untuk melinting kretek. Selain itu terdapat diorama mengenai suasana pabrik dan barang-barang promosi penjualan kretek dari masa ke masa. Kita pun juga dapat melihat display merk-merk kretek dari masa ke masa. Bahkan, pada jamannya, tea set pernah menjadi hadiah jika kita membeli kretek.

Di antara satu diorama dan diorama lainnya, terdapat sebuah pintu kaca yang mengakses ke bagian belakang museum. Di belakang terdapat tiga kolam renang dengan ukuran yang cukup besar. Satu kolam renang dengan prosotan spiral besar di kelilingi oleh kolam arus (entahlah ini benar atau tidak, tapi penampakkanya seperti itu) persis seperti yang ada di Pondok Indah Mal jaman dulu sebelum di renovasi. Di sisi lain, terdapat satu kolam renang lagi dengan ukuran yang cukup besar bernama ” Wahana Permainan Ember Tumpah”. Di sisi kolam terdapat dua tiang beton yang diatasnya terdapat ember berisi air yang siap ditumpahkan ke kolam. That’s why wahana ini dinamakan demikian. Tetapi jika ingin menikmati wahana ini, pengunjung diwajibkan membayar lima ribu rupiah.

Di dekat arena Ember Tumpah tersebut, terdapat halaman yang cukup luas berisikan permainan anak-anak. Ada ayunan, prosotan dan juga jaring-jaring. Di halaman ini juga terdapat sebuah bangunan menyerupai pos satpam yang cukup tinggi dengan kabel memanjang ke halaman depan yang ternyata dulunya adalah wahana Flying Fox.

Di area kiri museum, di dekat playground tadi terdapat sebuah bangunan yang kelihatannya sudah tidak terpakai lagi. Bangunan itu adalah Bioskop Museum Kretek. Dengan adanya bangunan ini, menambah ke-“random“-an yang saya temukan di dalam museum ini. Loket museum ini sudah tertutup dan agak sedikit berdebu. Dilihat dari kaca tempat penjualan tiket, tertumpuk barang-barang yang sudah tak terpakai. Di kanan kiri loket, terdapat akses masuk menuju kedalam bioskop. Selain itu, di depan loket, masih terpampang banner film apa yang sedang diputar (mungkin yang terakhir) di bioskop itu. Disitu tertulis tahun 2012 dengan banner film Avatar. Tidak jauh dari gedung bioskop, di sebelah kirinya terdapat bangunan seperti rumah tingkat yang cukup besar tetapi terlihat sudah tidak dipergunakan lagi. Di bagian depannya terdapat arena mandi bola bagi anak-anak dengan ukuran kecil tetapi terlihat sudah tidak pernah dipergunakan lagi. Sungguh ini adalah pengalam baru mengunjungi sebuah museum dengan banyak hal avant garde di dalamnya.

Well, kalau sedang kehabisan ide liburan mau kemana, explore Jawa Tengah bisa jadi salah satu alternatif liburan. Selain Kudus, masih banyak tempat yang dapat dikunjungi dengan tujuan wisata yang menarik seperti Demak, Jepara, dan Rembang.

Note: Tulisan ini adalah tulisan pindahan dari blog lama.

Sheila on 7: Yang Ter-Muach di Hati

Sheila on 7 adalah salah satu band yang menemani gue tumbuh dan berkembang menuju ABG. Pertama kali mereka keluar itu, gue sedang disibukkan dengan persiapan EBTANAS. Iya, gue masih pakai seragam merah putih waktu itu (kalau kalian menghitung umur gue, hasilnya gue masih muda belia ketika gue menulis tulisan ini). Yang mengenal gue dengan benar, sudah pasti tahu betul ini adalah satu band favorit gue sepanjang masa. Tapi nggak sedikit juga yang kaget bisa-bisanya gue suka sama ini band atau tidak menyangka gue bisa suka sama ini band. Ya memang, kalau pagi-pagi itu gue lebih suka nyetel Dialog Dini Hari atau Sigur Ros. Bahkan gue hafal hampir semua lagu Superman is Dead pun koleksi albumnya lebih lengkap dari pada koleksi album Sheila on 7.

Emang sih nggak jarang gue menemui orang yang malu-malu untuk mengakui kalau mereka itu suka sama Sheila on 7. Tapi karena populasi yang begini ada banyak, jadi gue maklumi saja. Setidaknya mereka pasti menyanyi dengan lantang di dalam hati kalau ada lagu dari Sheila on 7 dikumandangkan.

Kenapa gue tiba-tibe beride bikin playlist Sheila on 7? Karena kemarin gue kesasar di satu blog seseorang yang tidak gue kenal. Orang tersebut menuliskan lagu-lagu Sheila on 7 favoritnya. Kemudian gue pun tergerak untuk bikin satu playlist yang isinya lagu-lagu Sheila on 7 yang Ter-muach di hati gue. Daftar di bawah tidak sesuai urutan dari lagu mana yang paling gue suka, karena untuk menentukan lagu Sheila on 7 mana yang paling gue suka itu lebih susah dari pada harus menghafal rumus phytagoras.

1. Dan..

Sepertinya lagu ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut kenapa harus ada di dalam playlist. Lagu yang maha fenomenal dengan video klip dramatis dan lirik lagu yang sering gue pergunakan dalam kehidupan sehari-hari “bersinar dan berpijar”. Namun tentunya, kalian tidak perlu mencaci maki gue agar kalian bersinar dan berpijar seperti dulu kala.

2. Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Alasan kenapa ada lagu ini di dalam daftar adalah intronya yang membawa gue seperti sedang berada di dalam sebuah bus dalam perjalanan yang jauh dan melempar pandangan jauh ke luar jendela.

3. Berai

Untuk ukuran anak yang masih pakai seragam merah putih ketika pertama kali mendengarkan lagu ini, mungkin lirik “Kau kemasi kasih sayangmu” bisa gue abaikan begitu saja. Namun sekarang gue bisa berpikiran betapa jeniusnya kalimat tersebut di dalam sebuah lagu. Pun ada masanya saat saat gue patah hati, gue mencoba bergegas ambil langkah sendu. Jika tidak, mungkin sudah terjaga oleh kelam dan terimbas dengan suram.

4. Pe De

Bayangin kalau bukan Duta yang nyanyi lagu ini. Gue gak kebayang kalo lagu ini hadir di zaman sekarang dengan lirik “Dor! Aku memang nggak funky tapi bukan gembel yang hidup tanpa usaha”. Coba bayangkan!

5. Perhatikan, Rani!

Menurut gue, lagu ini memiliki lirik dan makna yang mendalam. Lagu tentang seorang kakak bernama Rani yang meninggalkan Jakarta demi masa depan cipta. Ada jalinan personal antara gue dengan lagu ini, yaitu ketika gue harus belajar berpijar meninggalkan Jakarta demi masa depan cipta agar gue tidak takut dan layu pada semua cobaan yang menerpa gue. Bedanya, gue nggak mencorat-coret lukisan sebelum gue memadamkan sekejap warna-warni duniaku. Dan sepertinya, Duta tidak perlu memakai kacamata berwarna ungu sambil duduk senderan dalam video klip ini.

6. Sahabat Sejati

Lagu ini sepertinya lebih mengena ketika dikumandangan pada saat acara perpisahaan. Lagu tentang sahabat sejati yang setting video klipnya sangat mengena di kehidupan seharai-hari pada zaman itu. Kayak persahabatan antara gue dan shabat-sahabat gue yang tak pernah memikirkan ujung perjalanan. Walaupun ujung perjalanannya sama seperti teriakan pada lagu ini, Jakarta!

7. Bila Kau Tak Disampingku

Lagu ini gue masukkan ke dalam playlist karena simply gue suka aja sama lagunya. Tapi karena pernah ada becandaan internal dengan lagu ini, maka lagu ini menambah panjang nomor yang yang gue masukan ke dalam playlist.

8. Sebuah Kisah Klasik

Lagu yang digadang-gadang menjadi sebuah lagu wajib untuk sebuah acara perpisahan ini wajib hukumnya masuk ke dalam playlist. Namun untuk gue pribadi, lagu ini lebih mengena kepada momen saat gue sedang dalam perjalanan jauh atau sedang bermain-main dengan deburan ombak. Momen dimana gue bermain air di hamparan lautan luas adalah momen dimana gue harus bersenang-senang karena waktu ini yang akan gue rindukan di hari nanti. Momen dimana gue bertemu dengan orang-orang baru di tengah perjalanan karena waktu ini yang akan gue banggakan di hari tua. Sebuah kisah klasik untuk masa depan.

9. Mari Bercinta

Lagu yang maha intelek sehingga membuat gue mengharuskan membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk mengetahui arti kata dari ‘Ejawantah’. Bayangin aja waktu lagu ini keluar gue masih sekolah kelas 2 SMP yang bisa sekiranya tidak dapat langsung tau secara mentah-mentah arti kata ejawantah. Anton Widiastanto, mantan drummer Sheila on 7, patut diberi piagam penghargaan karena sudah menciptakan lagu maha indah dengan lirik yang luar biasa hebatnya, “Tentukan yang utama, yang satu tercintaa.. Kan jadi teman hidup yang setia..”.

10. Terima Kasih Bijaksana

Lagu yang maha bijaksana dari seorang pria yang berkata ke si pesona rahasia lagu ini bahwa ia tak peduli berapapun berat badannya nanti, si pesona rahasia ini akan tetap menjadi yang Ter-MUACH dihati. Walau ada sedikit ketakutan diawal bahwa ia terlalu liar untuk dimiliki, namun sesegera mungkin ia tepis bahwa itu hanya persinggahan egonya semata.

11. Melompat Lebih Tinggi

Bagai hutan dan hujan, lagu ini sudah kayak lagu penyemangat ketika olahraga. Apalagi kalau lagi lari. Tapi sayangnya, gue nggak suka lari apalagi dari kenyataan. Jadi setiap kali gue mendengar lagu ini, gue selalu membayangkan diri gue sedang lari pagi. Namun gue hargai usaha mereka yang rela memetik bintang untuk kau simpan.

12. Hari Bersamanya

Lagu dari seorang anak yang minta dilancarkan harinya kepada Tuhan membawa lagu ini kedalam playlist. Lagu yang buat gue level kesedihannya melebihi Sebuah Kisah Klasik untuk dikumandangkan dalam sebuah acara perpisahan. Seorang teman pernah membuat satu video stop motion yang mana video tersebut menggambarkan sebuah acara ulang tahun untuk terakhir kalinya yang dirayakan bersama teman dekat di sebuah apartemen yang pernah kami tinggali bersama-sama dengan latar lagu ini. Buat gue ada rasa haru tersendiri jika Tuhan melancarkan hariku bersama teman-temanku yang sekarang sudah berhamburan kemana-mana. Ditambah lokasi pembuatan video klip ini berada di sebuah sekolah dimana gue menghabiskan hari-hari gue selama tiga tahun di SMA bersamanya.

Simak Sheila on 7: Yang Ter-Muach di Hati

img_2854