Berdansa Resah di Akhir Pekan

“Engkau berdarah-darah dari antah berantah.”

Processed with VSCO with hb2 preset

Kalau sekarang gue berada di rentang waktu 2004-2006, potongan lirik diatas hampir bisa gue dengar seminggu sekali secara langsung. Di mana pada zaman itu, hampir setiap hari Sabtu terdapat pesta pora berupa dansa akhir pekan. Yang dimaksud dengan pesta pora tersebut adalah pensi. Dalam rentang waktu tersebut, gue masih berseragam putih-abu (tapi seragam sekolah gue berwarna biru terang kayak warna celana Jimmy waktu itu).

Jumat malam di Kemayoran, di sebuah hajatan besar bernama Syncronize Fest The Upstairs tampil memukau di area Forest stage. Muda-mudi langsung berdansa resah begitu musik dimulai. Multimedia dan tata lampu yang sangat mumpuni, membuat acara di tengah hingar bingar band lain yang sedang tampil seperti berada di planet lain. Buat gue yang sudah bertahun-tahun tidak menyaksikan mereka secara live, malam itu sungguh sebuah nostalgia manis dan membuat hati riang gembira. Gue meyakini, orang-orang yang berdansa resah malam itu, bisa dipastikan berada di tempat yang sama dengan gue dua belas tahun yang lalu.

Potongan lirik diatas, yang membuka penampilan The Upstairs malam itu, seolah melempar gue ke era dua belas tahun yang lalu dengan tata lampu gemerlap berbinar diiringi hingar bingar intro lagu tersebut yang suasananya seperti membawa kita ke planet antah berantah. Sepertinya tidak ada yang berubah, kecuali rupa kami yang kurang kinyis-kinyis seperti dulu kala.

Processed with VSCO with hb2 preset

Di antara perpindahan satu lagu ke lagu lainnya, Jimmy, seperti biasa selalu memberikan bridging akan lagu apa yang akan dibawakan selanjutnya dengan celotehan banyol tanpa sensor. Walaupun sepertinya ia tidak sedang berusaha melucu, namun kami semua tertawa dan senang. Ini salah satu bentuk kerinduan gue akan penampilan The Upstairs yang dibayar tunai malam itu.

Nomor-nomor maha mumpuni dibawakan semua malam itu. Mulai dari lagu cinta dengan alunan nada yang syahdu Satelit, kemudian kami semua diajak berdansa resah di akhir pekan bersama para Gadis Gankster setelah enam hari berseragam dalam Dansa Akhir Pekan. Tidak sampai disitu, lagu yang mengingatkan gue akan berakhirnya masa SMA dibawakan dengan syahdu dan gue pun tak terbersit hati untuk segera berhenti berdansa karena semua Terekam (Tak Pernah Mati) yang diawali dengan alunan bass menggetarkan jiwa. Malam semakin larut namum tak satupun yang berhenti berdansa di ruang sempit 3 x 4 dengan tata lampu tujuh belasan Disko Darurat.

Jumat malam yang dingin nan syahdu sehabis hujan, pesta pora berdansa resah di akhir pekan ini pun harus benar-benar berakhir dan ditutup secara manis dengan persembahan setangkai mawar dari Matraman.

1Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar ku bersumpah semua memori akan caption foto dengan editan warna-warni di Friendster dengan potongan lirik The Upstairs pernah berjaya di masanya.

Sheila on 7: Yang Ter-Muach di Hati

Sheila on 7 adalah salah satu band yang menemani gue tumbuh dan berkembang menuju ABG. Pertama kali mereka keluar itu, gue sedang disibukkan dengan persiapan EBTANAS. Iya, gue masih pakai seragam merah putih waktu itu (kalau kalian menghitung umur gue, hasilnya gue masih muda belia ketika gue menulis tulisan ini). Yang mengenal gue dengan benar, sudah pasti tahu betul ini adalah satu band favorit gue sepanjang masa. Tapi nggak sedikit juga yang kaget bisa-bisanya gue suka sama ini band atau tidak menyangka gue bisa suka sama ini band. Ya memang, kalau pagi-pagi itu gue lebih suka nyetel Dialog Dini Hari atau Sigur Ros. Bahkan gue hafal hampir semua lagu Superman is Dead pun koleksi albumnya lebih lengkap dari pada koleksi album Sheila on 7.

Emang sih nggak jarang gue menemui orang yang malu-malu untuk mengakui kalau mereka itu suka sama Sheila on 7. Tapi karena populasi yang begini ada banyak, jadi gue maklumi saja. Setidaknya mereka pasti menyanyi dengan lantang di dalam hati kalau ada lagu dari Sheila on 7 dikumandangkan.

Kenapa gue tiba-tibe beride bikin playlist Sheila on 7? Karena kemarin gue kesasar di satu blog seseorang yang tidak gue kenal. Orang tersebut menuliskan lagu-lagu Sheila on 7 favoritnya. Kemudian gue pun tergerak untuk bikin satu playlist yang isinya lagu-lagu Sheila on 7 yang Ter-muach di hati gue. Daftar di bawah tidak sesuai urutan dari lagu mana yang paling gue suka, karena untuk menentukan lagu Sheila on 7 mana yang paling gue suka itu lebih susah dari pada harus menghafal rumus phytagoras.

1. Dan..

Sepertinya lagu ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut kenapa harus ada di dalam playlist. Lagu yang maha fenomenal dengan video klip dramatis dan lirik lagu yang sering gue pergunakan dalam kehidupan sehari-hari “bersinar dan berpijar”. Namun tentunya, kalian tidak perlu mencaci maki gue agar kalian bersinar dan berpijar seperti dulu kala.

2. Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Alasan kenapa ada lagu ini di dalam daftar adalah intronya yang membawa gue seperti sedang berada di dalam sebuah bus dalam perjalanan yang jauh dan melempar pandangan jauh ke luar jendela.

3. Berai

Untuk ukuran anak yang masih pakai seragam merah putih ketika pertama kali mendengarkan lagu ini, mungkin lirik “Kau kemasi kasih sayangmu” bisa gue abaikan begitu saja. Namun sekarang gue bisa berpikiran betapa jeniusnya kalimat tersebut di dalam sebuah lagu. Pun ada masanya saat saat gue patah hati, gue mencoba bergegas ambil langkah sendu. Jika tidak, mungkin sudah terjaga oleh kelam dan terimbas dengan suram.

4. Pe De

Bayangin kalau bukan Duta yang nyanyi lagu ini. Gue gak kebayang kalo lagu ini hadir di zaman sekarang dengan lirik “Dor! Aku memang nggak funky tapi bukan gembel yang hidup tanpa usaha”. Coba bayangkan!

5. Perhatikan, Rani!

Menurut gue, lagu ini memiliki lirik dan makna yang mendalam. Lagu tentang seorang kakak bernama Rani yang meninggalkan Jakarta demi masa depan cipta. Ada jalinan personal antara gue dengan lagu ini, yaitu ketika gue harus belajar berpijar meninggalkan Jakarta demi masa depan cipta agar gue tidak takut dan layu pada semua cobaan yang menerpa gue. Bedanya, gue nggak mencorat-coret lukisan sebelum gue memadamkan sekejap warna-warni duniaku. Dan sepertinya, Duta tidak perlu memakai kacamata berwarna ungu sambil duduk senderan dalam video klip ini.

6. Sahabat Sejati

Lagu ini sepertinya lebih mengena ketika dikumandangan pada saat acara perpisahaan. Lagu tentang sahabat sejati yang setting video klipnya sangat mengena di kehidupan seharai-hari pada zaman itu. Kayak persahabatan antara gue dan shabat-sahabat gue yang tak pernah memikirkan ujung perjalanan. Walaupun ujung perjalanannya sama seperti teriakan pada lagu ini, Jakarta!

7. Bila Kau Tak Disampingku

Lagu ini gue masukkan ke dalam playlist karena simply gue suka aja sama lagunya. Tapi karena pernah ada becandaan internal dengan lagu ini, maka lagu ini menambah panjang nomor yang yang gue masukan ke dalam playlist.

8. Sebuah Kisah Klasik

Lagu yang digadang-gadang menjadi sebuah lagu wajib untuk sebuah acara perpisahan ini wajib hukumnya masuk ke dalam playlist. Namun untuk gue pribadi, lagu ini lebih mengena kepada momen saat gue sedang dalam perjalanan jauh atau sedang bermain-main dengan deburan ombak. Momen dimana gue bermain air di hamparan lautan luas adalah momen dimana gue harus bersenang-senang karena waktu ini yang akan gue rindukan di hari nanti. Momen dimana gue bertemu dengan orang-orang baru di tengah perjalanan karena waktu ini yang akan gue banggakan di hari tua. Sebuah kisah klasik untuk masa depan.

9. Mari Bercinta

Lagu yang maha intelek sehingga membuat gue mengharuskan membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk mengetahui arti kata dari ‘Ejawantah’. Bayangin aja waktu lagu ini keluar gue masih sekolah kelas 2 SMP yang bisa sekiranya tidak dapat langsung tau secara mentah-mentah arti kata ejawantah. Anton Widiastanto, mantan drummer Sheila on 7, patut diberi piagam penghargaan karena sudah menciptakan lagu maha indah dengan lirik yang luar biasa hebatnya, “Tentukan yang utama, yang satu tercintaa.. Kan jadi teman hidup yang setia..”.

10. Terima Kasih Bijaksana

Lagu yang maha bijaksana dari seorang pria yang berkata ke si pesona rahasia lagu ini bahwa ia tak peduli berapapun berat badannya nanti, si pesona rahasia ini akan tetap menjadi yang Ter-MUACH dihati. Walau ada sedikit ketakutan diawal bahwa ia terlalu liar untuk dimiliki, namun sesegera mungkin ia tepis bahwa itu hanya persinggahan egonya semata.

11. Melompat Lebih Tinggi

Bagai hutan dan hujan, lagu ini sudah kayak lagu penyemangat ketika olahraga. Apalagi kalau lagi lari. Tapi sayangnya, gue nggak suka lari apalagi dari kenyataan. Jadi setiap kali gue mendengar lagu ini, gue selalu membayangkan diri gue sedang lari pagi. Namun gue hargai usaha mereka yang rela memetik bintang untuk kau simpan.

12. Hari Bersamanya

Lagu dari seorang anak yang minta dilancarkan harinya kepada Tuhan membawa lagu ini kedalam playlist. Lagu yang buat gue level kesedihannya melebihi Sebuah Kisah Klasik untuk dikumandangkan dalam sebuah acara perpisahan. Seorang teman pernah membuat satu video stop motion yang mana video tersebut menggambarkan sebuah acara ulang tahun untuk terakhir kalinya yang dirayakan bersama teman dekat di sebuah apartemen yang pernah kami tinggali bersama-sama dengan latar lagu ini. Buat gue ada rasa haru tersendiri jika Tuhan melancarkan hariku bersama teman-temanku yang sekarang sudah berhamburan kemana-mana. Ditambah lokasi pembuatan video klip ini berada di sebuah sekolah dimana gue menghabiskan hari-hari gue selama tiga tahun di SMA bersamanya.

Simak Sheila on 7: Yang Ter-Muach di Hati

img_2854

 

 

 

Buku Biografi dan Superman is Dead

Ngomong-ngomong soal Superman Is Dead, bisa dibilang saya tumbuh besar dengan lagu-lagu band ini. Saya punya semua rilisan fisik keluaran major label (kecuali album terakhir versi digital) dan album Bad, Bad, Bad. Pertama dengar nama band ini waktu saya masih kelas 3 SMP. Waktu itu sudah ada majalah yang membahas profil band ini.

Beranjak SMA, terbitlah album Kuta Rock City. Tak perlu waktu lama untuk membuat saya hafal semua lagu di album ini. Saya punya CD dan kasetnya. Sampai-sampai, saking seringnya di putar, CD tersebut scratch dan track ‘Musuh Sahabat’ tidak bisa saya nikmati lagi dengan jelas. Selain itu, saya pun rajin membeli majalah-majalah yang memuat profil dan info-info terkini mengenai SID juga rajin nongkrongin MTV yang menjadikan SID sebagai Exclusive Artist of the Month. Tidak lama setelah itu, ahirnya saya berhasil untuk menyaksikan live performance mereka secara langsung di acara MTV Threesome.

Seiring berjalannya waktu, saya rajin browsing-browsing di internet juga rajin beli-beli majalah. Tidak banyak teman semasa SMA saya menyukai SID, terlalu keras (musiknya) katanya. Jadilah saya tidak punya teman untuk berdiskusi.Sampai saya beranjak kuliah di Singapura, saya membawa album Black Market Love dan beberapa majalah yang memuat profil SID. Setelah selang beberapa tahun, terbitlah album Angels & The Outsiders. Sampai dua tahun setelah album tersebut rilis, Green Day mengadakan konser di Singapura.

Hubungannya adalah?

Di hari Green Day konser, SID menggelar gig di sebuah bar  di daerah Clarke Quay. Nama barnya Yello Jello. Sebelum berangkat konser, yang saya pastikan berada di dalam tas adalah tiket konser Green Day dan Cd Angels & The Outsiders. Selesai konser dari Kallang Indoor Stadium, saya naik bis nomor 54 ke Clarke Quay.

Sesampainya disana suasana sudah lumayan ramai, tapi sepertinya SID belum tiba di venue. Mungkin mereka habis nonton Green Day juga, pikir saya waktu itu. Kira-kira hampir satu jam menunggu, acara pun dimulai. Sangat intim. Tidak ada adegan dorong-dorongan. Bahkan saya hanya berjarak dua jengkal dengan Eka Rock.

Beres acara, saya berkesempatan foto bareng personil SID dan meminta untuk melegalisir CD Angels & Outsiders saya. Kemudian acara malam itu saya tuliskan di web yang dibuat oleh para mahasiswa Indonesia di Singapura. Pada saat itu website sempat down beberapa saat karena membludaknya pengunjung. Hal itu terjadi karena Jerinx me-retweet link dari saya.

Satu tahun setelahnya, saya kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahan media yang masih satu grup dengan majalah yang namanya sering disebut di buku Bio SID 20th. Tiga tahun saya bekerja disana dan selalu berharap untuk bertemu SID entah di kantin atau di studio belakang. Tapi nasib saya kurang mujur, saya tidak pernah bertemu mereka di kantor, yang saya temui hanyalah Setia band.

Processed with VSCO with hb2 presetBuku Biografi SID 20th.

Berbicara mengenai buku biografi ini, saya rasanya seperti membaca majalah yang saya baca di tahun 2003. Beberapa kejadian yang dituliskan dalam buku tersebut, saya alami dan menyimak cerita itu pada masanya.Ya.. seperti yang tadi saya tuliskan diatas. Saya tidak butuh waktu yang lama untuk membaca buku ini, begitu buku pesanan saya datang, langsung saya baca habis. Walaupun saya sudah ngantuk karena saya mbak-mbak kantoran yang sudah grabak-grubuk dari pagi. Tapi saya tidak bisa berhenti membaca buku ini sampai halaman terahir. Dan tidak lupa saya memotretnya dengan niat, komplit beserta kembang sebagai properti agar terlihat sedikit kekinian.

Ada dua bagian yang secara pribadi saya suka dalam buku ini. Pertama pada bagian yang menceritakan watak Jerinx yang mudah meledak-ledak kemudian akan meminta maaf jika dirasa perlu. Ketika saya membaca tulisan ini, hanya berbeda satu hari setelah Jerinx upload foto di instagram mengenai band-band dan acara Soundrenaline. Setelahnya, Jerinx pun menunggah foto lagi di Instagram yang berisi permintaan maaf atas postingan sebelumnya. Kedua, cerita tentang sifat Bobby yang sulit tersinggung, selalu cool dan berkepala dingin. Saya hanya berkomentar dalam hati; Virgo banget!

Rasanya saya masih belum puas membaca bukut tersebut. Seperti masih ingin membaca hal-hal lainnya yang belum diceritakan. Hahahaha! Yah semoga sekuel buku ini cepat keluar. Dan semoga saya bisa duduk satu meja dan minum bir dingin (capital, underline, bold dan berwarna merah) bersama para personil SID.

Amin.
Selamat siang, salam olahraga.

Cheers.

Note: ditulis pertama kali pada Rabu, 9 September 2015.