Sangiang: The Unexpected Beauty

Where do the Jakartans go for a quick and adventurous getaway?

Bandung?

Puncak?

Anyer?

After sun rise in Paku Anyer Port

The last place should be a good idea to a beach bitch and for those who needs some injection of vitamin sea. Wait! How about we go further across the sea? There’s a not-so-hidden gem in Sunda Strait called Sangiang Island. Have you ever heard about the island? I guess most of us familiar with its name. There’s a lot of Sangiang Island signage a long the way in Anyer. To me, the name of Sangiang Island itself is quite familiar since one of the tour operators often promoted the tour package.

Went to Anyer around 2 am, arrived at the villa, slept in the car until the sun rise then go to Paku Anyer Port. One hour boat ride in the morning is the best time to sit in the front area of the boat to see the sea and scenery.

Best spot on the boat

First stop was in Tembuyuh, the place of turtle nest. Our first agenda was free the tukik (baby sea turttle) into the sea. Unfortunately, we didn’t have so much time for tukik, so we did it quickly and ride the boat to Lagoon Bajo. The name of the place instantly spoils my memory of Labuan Bajo. We did snorkeling for about two hours to see all those dancing fishes and coral. Too bad the water is not clear enough. However the citizen of Sangiang underwater was actually facinated me. A lot of colorful group fishes dancing around us and looking for some food.

Tembuyuh port

We continue the journey  to the island to explore and have lunch cooked by local. We’re cleaning up ourself after snorkeling and have a rest while waiting for our lunch to be served. I took some pictures around the place and walking around in the bright sunny afternoon. After fueling ourself with food, we continue to explore the island by trekking to Goa Kelelawar (bat cave). It’s one hour trekking down the hill and not forget to mention; forest (better pouring yourself with mosquito lotion before trekking). Along the way to Goa Kelelawar, the ambience of the track resembles the track of Rinca Island in Komodo. I’m just scared that suddenly there’s a komodo popped in front of me. LOL!

Explore Sangiang

The sound of big wave echoing from the cave when we arived. Goa Kelelawar served an epic scenery by the combination of the wave, the sound of the bat and the cave itself. Ray of light is a bonus to take an epic picture in front of the cave.We took some times to take a rest for a long walk before continuing our journey to the hill.

Best spot on the island: Goa Kelelawar

 

Capung on point.

We walk down on the island to next spot. I didn’t have any expectation about the hill.  When we arrived, the hill was unexpectedly beautiful. Whatever the sun burns our skin, the beauty can’t stop us. We stop by to have fresh coconut water while sitting on the grass and sunbathing. We continue our journey by walking down the hill and spoiled by the beauty of nature along the way. There are three spots on the hill to enjoy their panoramic scene before we reach our final destination; Sangiang beach.

Sangiang Beach

Apparently we only had one day trip on the island and feels like its not enough to explore. This Sangiang Island is worth to visit for more than one time. Before the shine in the other side of the world, we’re walking down the island again to Tembuyuh, where our boat is waiting.

On our way back to Anyer before the sun finally set

 

Her Morning Elegance

On one foreign morning in Cimahi we woke up way earlier than usual. The weather was so chilly and a bit cloudy. I stayed at my friend’s house, Bayu, together with his wife and our close friend which located in Cimahi. We left home at 6 am and directly head to Ciwidey. It was my first time visiting Ciwidey. We chose Ranca Upas as our destination to play along with a bunch of deer (and take a lot of pictures of course). This place is the place where you can do camping, barbeque-ing, or just visiting to see the beautiful scenery.

The first time we arrived the weather was a bit windy and foggy, but not long after that the sun shines beautifully and gave us warmth. We took a lot of photos, because the area was so photogenic and lots of spots to explore. We chose a certain area to topping up the ray of light to our photos (this kinda thing definitely makes us, girls, happier and can’t wait to post it to Instagram).

Not forget to mention, We had the best Indomie we’ve ever tasted.

Processed with VSCO with hb2 presetOne Chilly morning in Ranca Upas
Processed with VSCO with hb2 presetThis photo was taken not long after the appearance of the sun
Processed with VSCO with hb2 preset
Processed with VSCO with hb2 presetKyoot lil’ Bamby

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 presetUh! I’m looking for snacks
Processed with VSCO with hb2 presetYay! Got one.
Processed with VSCO with hb2 presetFinally, someone stuffed me with my favorite snack.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 presetLet’s move into the other side
Processed with VSCOcam with hb2 preset
Processed with VSCO with hb2 presetThe appearance of the sun makes this girl really happy
Processed with VSCO with hb2 presetOh look! That lovebirds tho
Processed with VSCO with hb2 presetHead to my Instagram:
instagram.com/rereanindita

 

Pagi Hening di Rawa Pening

Waktu itu teman gue yang bernama Seto sedang melakukan perjalanan mudik ke kampung halamannya. Tidak sekedar mudik, namun ia pun tidak lupa berjalan-jalan di sekitar kampung halamannya. Sampai pada suatu saat ia memposting satu foto yang sangat menarik di Instagramnya. Pada kolom caption, Kak Seto (begitu gue memanggilnya, tapi bukan Kak Seto yang menciptakan si Komo), menjelaskan lokasi, jam dan siapa yang memotret fotonya dengan pose yang membelakangi kamera.

Tidak lama setelah doi memposting fotonya tersebut gue menyinggahi Salatiga yang rute perjalanannya melewati lokasi foto tersebut. Gue menginap semalam di Semarang dan paginya gue melanjutkan perjalanan ke Salatiga. Rute yang gue lewati pada saat itu adalah via lingkar selatan Ambarawa. Sesampainya di sana, gue pun riang gembira karena cuaca cerah dan udara yang enak.

Processed with VSCO with hb2 presetSuasana perjalanan dari Semarang menuju Salatiga sebelum mampir ke Rawa Pening. Jalanan aspal yang diapait oleh hamparan sawah dengan dikelilingi oleh Gunung Merbabu, Telomoyo dan Ungaran.
Processed with VSCOcam with hb2 presetLokasi, pose, angle dan fotografer yang sama seperti Kak Seto. Untuk mengelilingi rawa, kami menyewa kapal yang berkeliling selama kurang lebih empat puluh lima menit. Jika bepergian dalam grup, satu kapal bisa disewa tanpa bergabung dengan orang lain.
instagram.com/rereanindita

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 presetTanaman eceng godong yang tumbuh subur dan banyak di jumpai ketika berkeliling rawa.
Processed with VSCO with hb2 presetSejauh mata memandang berkeliling; eceng gondong, Gunung Merbabu, Telomoyo dan Ungaran.

Processed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetProcessed with VSCO with hb2 presetinstagram.com/rereanindita

Processed with VSCO with hb2 preset

Waktu yang pas untuk berkunjung ke Rawa Pening adalah saat matahari terbit atau sebelum jam sebelas siang. Pagi hari udara dan keheningan masih terasa di Rawa Pening.

Kretek dan Museum Avant Garde

Kudus Kota Kretek

Tulisan itu berdiri tegak menantang saat kita mulai memasuki kota Kudus. Kota ini memang kota penghasil kretek terbesar di Indonesia dan di kota ini pula terdapat banyak pabrik kretek. Termasuk pabrik kretek milik orang terkaya di IndonesiaKota ini sendiri terletak di Jawa tengah dan berbatasan langsung dengan Pati, Demak serta Jepara.

Ngomong-ngomong soal Kudus kota kretek, disini pula terdapat Museum Kretek. Banyak hal (yang menurut saya) agak random yang saya temui di dalam museum ini. Sebut saja cukup avant garde karena saya belum pernah mendatangi museum dengan banyak hal di dalamnya. Hehehehe. Letak museum ini di Jl. Getas Pejaten, dengan lahan yang sangat luas. Sebelum masuk ke dalam museum, pengunjung diwajibkan untuk membayar retribusi sebesar dua ribu rupiah.

Lahan parkir di museum ini cukup luas dan begitu memasuki area museum, kita akan disambut oleh patung yang terlihat seperti keluarga petani tembakau dengan tulisan “Museum Kretek Kudus” di bagian tengah. Di sebelah kanan gerbang, kita akan menemui playground dan rumah adat Kudus. Gedung museumnya sendiri terletak di bagian tengah. Gedung tersebut tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan luasnya lahan museum.

Begitu masuk, kita akan disambut dengan kaca display tempat penjualan souvenir. Kaca display ini langsung menjadi pusat perhatian saya ketika pertama kali masuk ke dalam museum. Mungkin saya agak salah foheus, bukanya menikmati museum tetapi malah sibuk ngeliatin display. Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa saya sedang berada di Museum Kretek Kudus, tetapi salah satu souvenir yang dijual adalah gantungan kunci Menara Eiffel seharga empat ribu rupiah (Oke… ini cukup random sih). Selain itu terdapat cincin batu (bukan batu akik) warna – warni, yang lagi-lagi saya kurang tahu apa hubungannya dengan Museum Kretek.

Setelah itu, pikiran saya masih dipenuhi dengan souvenir yang kurang ada hubungannya dengan museum. Akhirnya saya berjalan keliling museum dengan tetap memikirkan gantungan kunci Menara Eiffel.

Diawali dari ruang kerja Bapak Nitisemito, di ruangan kecil itu terdapat meja bundar dan kursi serta patung Bapak Nitisemito yang sedang melongok di Jendela. Si bapak ini adalah raja kretek dan bisa dikatakan Bapak Nitisemito adalah penemu kretek.

 

Seperti di Museum Sampoerna, di sini juga terdapat warung-warungan dengan patung bapak penjualnya. Selain itu terdapat diorama tentang pembuatan kretek, jenis-jenis tembakau serta jenis-jenis kertas untuk melinting kretek. Selain itu terdapat diorama mengenai suasana pabrik dan barang-barang promosi penjualan kretek dari masa ke masa. Kita pun juga dapat melihat display merk-merk kretek dari masa ke masa. Bahkan, pada jamannya, tea set pernah menjadi hadiah jika kita membeli kretek.

Di antara satu diorama dan diorama lainnya, terdapat sebuah pintu kaca yang mengakses ke bagian belakang museum. Di belakang terdapat tiga kolam renang dengan ukuran yang cukup besar. Satu kolam renang dengan prosotan spiral besar di kelilingi oleh kolam arus (entahlah ini benar atau tidak, tapi penampakkanya seperti itu) persis seperti yang ada di Pondok Indah Mal jaman dulu sebelum di renovasi. Di sisi lain, terdapat satu kolam renang lagi dengan ukuran yang cukup besar bernama ” Wahana Permainan Ember Tumpah”. Di sisi kolam terdapat dua tiang beton yang diatasnya terdapat ember berisi air yang siap ditumpahkan ke kolam. That’s why wahana ini dinamakan demikian. Tetapi jika ingin menikmati wahana ini, pengunjung diwajibkan membayar lima ribu rupiah.

Di dekat arena Ember Tumpah tersebut, terdapat halaman yang cukup luas berisikan permainan anak-anak. Ada ayunan, prosotan dan juga jaring-jaring. Di halaman ini juga terdapat sebuah bangunan menyerupai pos satpam yang cukup tinggi dengan kabel memanjang ke halaman depan yang ternyata dulunya adalah wahana Flying Fox.

Di area kiri museum, di dekat playground tadi terdapat sebuah bangunan yang kelihatannya sudah tidak terpakai lagi. Bangunan itu adalah Bioskop Museum Kretek. Dengan adanya bangunan ini, menambah ke-“random“-an yang saya temukan di dalam museum ini. Loket museum ini sudah tertutup dan agak sedikit berdebu. Dilihat dari kaca tempat penjualan tiket, tertumpuk barang-barang yang sudah tak terpakai. Di kanan kiri loket, terdapat akses masuk menuju kedalam bioskop. Selain itu, di depan loket, masih terpampang banner film apa yang sedang diputar (mungkin yang terakhir) di bioskop itu. Disitu tertulis tahun 2012 dengan banner film Avatar. Tidak jauh dari gedung bioskop, di sebelah kirinya terdapat bangunan seperti rumah tingkat yang cukup besar tetapi terlihat sudah tidak dipergunakan lagi. Di bagian depannya terdapat arena mandi bola bagi anak-anak dengan ukuran kecil tetapi terlihat sudah tidak pernah dipergunakan lagi. Sungguh ini adalah pengalam baru mengunjungi sebuah museum dengan banyak hal avant garde di dalamnya.

Well, kalau sedang kehabisan ide liburan mau kemana, explore Jawa Tengah bisa jadi salah satu alternatif liburan. Selain Kudus, masih banyak tempat yang dapat dikunjungi dengan tujuan wisata yang menarik seperti Demak, Jepara, dan Rembang.

Note: Tulisan ini adalah tulisan pindahan dari blog lama.