Haji Lane: Terjebak Reputasi Masa Lampau

Kalau waktu gue kuliah sudah ada Instagram dengan Instastorynya, Snapchat beserta filter dan stickernya atau Path, mungkin postingan socmed gue kala itu sudah di penuhi oleh foto ‘ala-ala’ di area Haji Lane, Kampong Glam dan sekitarnya. Bisa jadi setiap hari gue mampir ke kedai-kedai atau toko-toko yang ada di Haji Lane untuk sekedar foto ‘ala-ala’ karena dapat di tempuh dengan berjalan kaki dari kampus.

Processed with VSCO with hb2 preset
Haji Lane dan nostalgia masa lampau.

Saat menyusun itinerary perjalanan balik kampong bersama kedua sahabat gue, yang menjadi salah satu pertanyaan gue adalah “Nanti kita bakal ke Haji Lane gak?”. Dengan sigap sahabat gue yang bernama Didi menjawab dengan cepat “Gue agak males sih ke Haji Lane”.

Ya memang sih kalau di pikir-pikir, bagi kami yang dulu sering mengantar ‘turis’ ke Haji Lane sepertinya bukan merupakan kunjungan wajib (walaupun Haji Lane itu bagian dari napak tilas). Sampai pada akhirnya pembicaraan kami tiba pada kalimat, “Yaudah liat nanti aja sempet ke Haji Lane apa nggak”. Kemudian tiba-tiba salah seorang sahabat gue yang bernama Ayata, mengeluarkan celetukan yang menginspirasi gue untuk membuat tulisan ini.

“Haji Lane terjebak reputasi masa lampau”.

Begitulah tulisan Ayata dalam merespon  percakapan kami di grup Line. Dan tibalah hari dimana kami pada akhirnya menyambangi Haji Lane. Hari kami dimulai tidak terlalu pagi, kami mengunjungi ArtScience Museum di Marina Bay Sands menjelang makan siang. Agenda penting kami hari itu adalah menyaksikan Sigur Ros manggung di Fort Canning Park di malam harinya. Namun kami memiliki banyak waktu luang dari sore hingga malam menjelang.

Kami naik MRT dari Marina Bay, pindah kereta di Raffles Place (dengan pertimbangan lebih sepi daripada City Hall) hingga kemudian pindah lagi ke green line menuju Bugis station. Begitu sampai kami menuju Jalan Pisang untuk foto-foto dengan mural yang ada disana. Namun sayang, Didi tidak dapat bergabung lebih lama karena ia lebih memilih untuk beristirahat di penginapan sebelum menonton konser di malam harinya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Perjalanan napak tilas Haji Lane yang di mulai dari Jalan Pisang. Mural anak cewek yang lagi meluk anak singa ini letaknya di pinggir jalan dan walking distance dari Bugis MRT.

Gue dan Ayata menghabiskan banyak waktu untuk foto di satu spot yang kami anggap menarik. Dari Jalan Pisang kami berlanjut ke area Sultan Mosque. Hari itu ramai pengunjung karena ada bazaar barang-barang second di tengah jalan menuju Bali Lane. Beberapa rombongan turis juga terlihat sedang berbelanja di toko-toko souvenir di Kampong Glam. Kami menyempatkan berkunjung ke toko mainan yang terdapat Cosmic Robot Museum di dalamnya. Namun untuk masuk ke dalam museum, dikenakan admission fee.

Processed with VSCO with hb2 preset
Salah satu toko mainan di Kampong Glam yang banyak menjual mainan jadul layaknya mainan yang di jual abang-abang di depan sekolah. Di dalamnya terdapat Cosmic robot museum yang dikenakan biaya masuk untuk melihat-lihat koleksinya.

Kami tidak terlalu lama di Kampong Glam dan melanjutkan perjalanan menuju Bali Lane. Disini kami berjalan pelan-pelan karena ramai orang yang sedang melihat-lihat bazaar. Cuaca sore itu agak mendung dan membuat kami lebih sigap untuk menyelesaikan tujuan menuju Haji Lane karena takut tiba-tiba hujan.

Processed with VSCO with hb2 preset
Dari Kampong Glam di lanjutkan berjalan kaki melalui bagian belakang Bali Lane. Tempat ini banyak di padati orang untuk foto-foto dengan temboknya. Lokasi ini tepat berada di bagian belakang Blu Jaz.

Setelah melewati kerumunan orang dan bazaar, kami pun harus melewati kerumunan yang lain. Di bagian belakang Bali Lane banyak mural yang bagus untuk spot foto. Gue dan Ayata pun gak mau kalah dan ikutan foto di depan mural tersebut. Beginilah yang terjadi kalau gue hanya jalan berdua, banyak berhentinya karena kurang fokus dengan tujuan utama. Hahahaha!

Processed with VSCO with hb2 preset
Di tengah hiruk pikuk Haji Lane dan sekitarnya, Going Om memancarkan aura zen bagi yang lewat atau pengunjungnya. Samar- samar terdengar alunan lagu Deva Premal dan soothing songs lainnya.

Selain banyak berhenti di berbagai spot menarik untuk foto, kami pun tak tahan untuk tidak memasuki toko-toko yang memiliki display menarik dari luar. Padahal rencana awalnya kami akan berjalan dari ujung ke ujung dan berfoto sebelum hari gelap. Tapi apa boleh buat, rupanya toko-toko tersebut memiliki daya tarik yang tinggi bagi kami berdua.

Processed with VSCO with hb2 preset
Spot foto wajib di depan mural yang terletak di ujung Haji Lane menuju Beach Road.

Cuaca yang masih mendung, meneguhkan hati kami untuk terus berjalan hingga ujung jalan Haji Lane yang mengarah ke Beach Road. Di ujung jalan terdapat mural yang besar dimana belakangan ini mural tersebut banyak menghiasi timeline media sosial. Ketika kami sampai di ujung jalan tersebut, terdapat banyak orang sedang melakukan ‘photoshoot’ di spot mural tersebut.

Nama Beach Road secara instan mengingatkan gue bahwa nama jalan itu pernah menjadi bagian dari masa lalu gue. Kampus gue terletak di 99 Beach Road. Waktu itu gedungnya baru di renovasi karena sebelumnya adalah kantor polisi. Sekarang kampus tersebut sudah pindah ke Clarke Quay dan gedung berwarna orange itu entah sekarang jadi apa. Sempat mendengar kabar beberapa kali dijadikan tempat untuk pameran instalasi seni.

Processed with VSCO with hb2 preset
Jendela yang cukup fotogenik di ujung jalan Haji Lane mengarah Beach Road. Jendela ini letaknya bersebrangan dengan mural yang berwarna-warni.

Dulu tuh ya kalau ada teman yang datang berkunjung, pasti tujuan utamanya Haji Lane dan Ann Siang Hill. Tapi Haji Lane menduduki posisi pertama tujuan wisata para ‘tamu’ ini ketika berkunjung. Bugis Junction biasa kami jadikan meeting point bagi para ‘tamu’ yang ingin berkunjung ke Haji Lane. Biasanya teman-teman kami itu juga punya agenda wajib ke Bugis Junction atau Bugis Street Village.

Processed with VSCO with hb2 preset
Terjebak reputasi masa lampau.

Tidak banyak yang berubah ketika menyusuri sepanjang jalan Haji Lane, hanya beberapa toko yang berganti. Entah karena gue yang sudah terlalu lama nggak ke Haji Lane, atau memang sekarang terdapat lebih banyak bar dan coffee shop di sekitaran Haji Lane. Toko-toko di Haji Lane adalah tipikal toko-toko di Singapura, dalam arti barang fesyen yang di jual bisa dipastikan dijual juga di toko sebelah. Namun barang-barang tersebut tentunya mengikuti tren fesyen yang sedang hits di Singapura.

Processed with VSCO with hb2 preset
Terjebak nostalgia.

Tidak terlalu banyak perubahan membuat jebakan nostalgia berhasil menangkap mangsanya. Haji Lane sampai sekarang masih menjadi tempat favorit untuk jalan-jalan. Baiknya sih tempat ini jangan di lupakan begitu saja. Terutama untuk para mantan ‘akamsi’, jangan bosan-bosan masuk ke dalam jebakan reputasi masa lampau dari tempat ini.