Balik Kampong

Pulang kampung bagi sebagian orang mungkin merupakan sebuah perayaan yang di tunggu-tunggu untuk bertemu dengan kerabat dan sanak saudara. Gue sendiri sepertinya sudah tidak ingat kapan terakhir kali merayakan sebuah momen yang bernama pulang kampung. Sampai ada masanya, sebuah negara tetangga gue jadikan ‘kampung halaman’ untuk sebuah alasan perayaan. Balik Kampong.

Processed with VSCO with hb2 preset
What was it like to grow up in a particular district of Singapore during a specific decade? How can you go for a peaceful walk around your home if the area being constantly remodelled by demolition and construction? How do present perceptions of space contrast with memory?

Empat tahun tinggal di negara orang membuat gue merasa negara tersebut sebagai ‘rumah kedua’ gue. Singapura yang bagi banyak orang merupakan surga belanja memiliki kenyamanan tersendiri buat gue untuk gue jadikan rumah kedua. Memang tidak sedikit dari teman-teman gue yang merasa bosan untuk tinggal di Singapura yang terlihat monoton dan ingin segera kembali ke kota masing-masing di Indonesia. Lebih enak katanya.

Buat gue pribadi walau kehidupan terasa monoton dengan kegiatan yang itu-itu saja, segalanya terasa mudah dan praktis. Dari segi efisiensi waktu, transportasi dan jarak yang bisa dibilang tidak terlalu jauh dari satu tempat ke tempat lain, membuat gue merasa tidak ingin meninggalkan negara ini. Apalagi bagi gue yang waktu itu seorang mahasiswi desain grafis, untuk urusan art supply dan printing semuanya tersedia dengan mudah. Walaupun untuk urusan living cost bisa dibilang cukup tinggi.

Yang gue inget, terakhir kali gue balik kampong dengan gegap gempita adalah di tahun 2012 dalam rangka naik haji menyaksikan Sigur Ros untuk pertama kalinya. Setelahnya di tahun 2013, gue hanya transit beberapa jam saja di Changi. Ya anggap saja sudah empat tahun lebih gue nggak pulang kampung.

Sampai pada suatu hari terdapat sebuah pengumuman penting yang lagi-lagi datangnya dari sebuah band bernama Sigur Ros. Tentu saja hati gue langsung bergejolak membaca pengumuman tersebut. Lebih dari itu gue pun muntah karena terlalu excited dan deg-degan. Padahal waktu itu gue sudah dua kali menyaksikan Sigur Ros secara live. Yasudah anggap saja ini sebuah panggilan ibadah rock (mungkin kalo festival ini nggak ada, gue belum tentu balik kampong).

Setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, akhirnya sudah diputuskan yang akan berangkat hanya kami bertiga; gue dan dua sahabat tandem setia. Alam semesta ternyata menyampaikan maksudnya tanpa banyak bicara, tiga bulan sebelum keberangkatan kami mendapat sebuah kabar gembira. Maskapai nasional Singapura memberi harga promo gila-gilaan untuk tiket pesawat pulang-pergi. Sungguh sebuah perayaan yang mumpuni karena untuk seorang gue, naik SQ adalah salah satu dari list panjang yang terdapat dalam kegiatan hayal babu sehari-hari. Jadilah kami tiga anak  banyak gaya berhasil naik SQ dengan harga promo (yang kalau pakai harga reguler nggak bakal kebeli).

Processed with VSCO with hb2 preset
Outer yang senantiasa gue pakai semasa kuliah masih bertahan hingga sekarang (dulu pakaian gue cukup warna-warni sebelum hitam semua seperti sekarang). Gue sengaja bawa untuk menghayati peran napak tilas. Outer ini gue beli di flea market seharga SGD 10, yang jualan temen gue.

Agenda kami tidak banyak, hanya tempat-tempat ‘penting’ yang kami kunjungi dan ziarahi atas nama napak tilas. Tiong Bahru yang belakangan digadang-gadang menjadi the most hipster place in Singapore, tidak kami lewatkan begitu saja. Terlebih gue dengan sangat berapi-api berniat membeli beberapa buku di Books Actually yang sekarang terletak di Tiong Bahru. Sudah tentu Books Actually ini masuk ke dalam daftar The Most Hipster Places in Singapore (semasa kami masih kuliah, toko buku ini terletak di Ann Siang Hill).

Processed with VSCO with hb2 preset
Books Vending Machine yang terletak persis di depan toko Books Actually berisikan mistery books dengan berbagai range harga.

Selain tidak ingin ketinggalan menyambangi tempat-tempat hits masa kini, kami tentunya tidak lupa untuk napak tilas kuliner. I’m actually not a culinary person yang kudu wajib mencicipi makanan lokal di daerah tertentu, tapi di Singapur gue bisa makan berbagai macam makanan yang ada disana. Mungkin karena rasanya cocok dan pernah menjadi makanan sehari-hari buat gue. Yang maha penting tentunya Iced CoffeeBasically minuman ini adalah percampuran antara kopi hitam dan condense milk, namun buat gue rasanya gak ada yang bisa ngalahin. Untuk di Jakarta sendiri, sangat jarang ditemukan iced coffee dengan rasa yang se-authentic ini.

Karena faktor cuaca yang tidak menentu ditambah saat itu adalah weekend menjelang liburan natal, jalanan di jantung utama kota Singapura sangat ramai. Gue pun gagal menyantap seporsi (atau dua) duck noodle di Bras Basah Complex. Tapi gue cukup terhibur dengan Yong Tau Fu di Food Republic 313 walaupun mereka sudah tidak menyediakan bumbu kacang yang di campur wijen dengan rasa yang sungguh mumpuni dan juga Popiah.

Malam minggu di Orchard Rd tentunya sudah bisa ditebak seperti apa ramainya. Terlebih gerimis masih tidak berhenti hingga malam menjelang. Dari kejauhan gue melihat Thongsia Building sudah tidak berdiri tegak. Sudah ditutupi oleh sejenis plastik berwarna hitam pertanda bangunan tersebut sudah di end block. Bangunan ini letaknya tepat di belakang Al-Falah Mosque dan dapat digapai dengan cara jay walking dari taxi stand Paragon. Thongsia Building ini gue tinggali selama kurang lebih tiga tahun, dengan nomor unit #09-02. Kamar gue adalah sebuah basecamp tempat teman-teman gue ‘transit’, sekedar nongkrong, bikin tugas dan bahkan menginap.

Processed with VSCO with hb2 preset
Salah satu restoran dengan kearifan lokal di tengah hingar bingar bar dan cafe yang terletak di Keong Saik Rd. Menu makanan cukup jelas dengan nama makanan, besarnya porsi dan harga. Tinggal tunjuk saja mau yang mana karena pemilik dan pelayan tidak bisa berbahasa Inggris.

Hari pertama hanya kami habiskan di Tiong Bahru dan Orchard Rd. Malamnya kami memilih untuk makan di sebuah rumah makan lokal yang terletak diantara bar dan cafe. Letaknya hanya beberapa meter dari tempat kami menginap di Keong Saik Rd. Tipe restoran seperti ini kebanyakan dari pekerja dan pemiliknya tidak dapat berbahasa Inggris. Tapi jaminan bahwa rasa makanannya enaknya tiada tara. Kami memilih menu cereal squid dan seafood fried rice.

Processed with VSCO with hb2 preset
Plain Vanilla Bakery, salah satu tempat tersohor di Tiong Bahru yang tentunya berada di deretan teratas dalam Singapore Hipster Place.

Keesokan paginya, Singapura diguyur hujan yang cukup deras. Kami baru memulai hari di siang hari untuk mengunjungi ArtScience Museum di Marina Bay Sands untuk menyaksikan Future World: Where Art Meet Science, instalasi seni digital yang di dominasi oleh permainana tata cahaya, warna dan ilusi optik (itu lho yang orang-orang suka foto diantara kelap-kelip lampu).

img_6908
Salah satu instalasi dengan permainan cahaya yang menari-nari di ArtScience Museum. Musik yang terdengar mengambang membuat perasaan sedikit melayang.

Ini memang hal baru bagi kami, terutama buat gue yang ketika gue back for good tempat ini belum beroperasi. Agenda penting kami hari itu baru berlangsung di malam hari, in between tercetuslah sebuah ide yang mumpuni untuk melakukan ziarah napak tilas. Kami ke Haji Lane. Baru saja kami tiba di Jalan Pisang, Didi, memilih untuk beristirahat di penginapan hingga malam menjelang konser. Demi alasan kesehatan, katanya.

Area Jalan Pisang, Sultan Mosque, Kampong Glam, Arab Street dan Haji Lane tidak begitu banyak perubahan. Hanya beberapa toko dan restoran yang berganti. Sisanya banyak tembok di ruko-ruko yang kini dihiasi oleh berbagai macam mural yang kini menjadi latar untuk sesi ‘photoshoot’ bagi siapapun yang melintasinya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Salah satu mural yang terletak di salah satu gang di area Bali Lane. Lokasinya persis di belakang Blu Jazz.

Setelah puas berjalan-jalan napak tilas di Haji Lane, gue dan Ayata beristirahat sejenak di sebuah Bar yang terletak hampir di ujung jalan Haji Lane untuk menikmati segelas bir dingin. Ketika hari sudah gelap barulah kami beranjak untuk kembali ke penginapan untuk bersiap-siap dan menjemput kawan kami, Didi. Sesudahnya barulah kami berangkat menuju Fort Canning Park untuk menghadiri agenda utama dalam trip kami; menyaksikan Neon Lights Festival. Kami tiba tepat saat Yuna baru menaiki Panggung. Barulah setelahnya, magical moment berlangsung dengan hadirnya Sigur Ros.

Processed with VSCO with hb2 preset
The magical Sigur Ros. Ini kali ketiga gue menyaksikan Sigur Ros dan kali kedua menyaksikannya di Fort Canning Park. Kali ini tidak dilengkapi dengan hujan deras, namun angin bertiup cukup kencang hingga membuat bulu kuduk berdiri.

Tidak seperti kebiasaan kami sehabis nonton konser, malam itu kami tidak menyantap kudapan malam di Spize. Kami memutuskan untuk kembali ke Keong Saik, dan berjalan kaki ke ujung jalan dekat China Town Complex untuk menikmati Sting Ray, La La dan Kerang hijau untuk kudapan malam di Hawker Center setempat. Tentunya hawker center tersebut kaya akan kearifan lokal dimana terdapat bekas kaleng Tiger Beer di meja-meja yang baru saja di tinggalkan pengunjungnya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kearifan lokal: menaruh kulit kerang langsung di meja dan bukan di piring kosong. Menu sharing diatas adalah La La dan Sting Ray.

Hari berganti dan kami hanya punya sedikit sisa waktu sebelum pada akhirnya kami harus bergegas menuju Changi Airport. Namanya juga tiket promo, kami tidak bisa mengatur sesuka hati jam penerbangan kami. Pasrah saja dengan penerbangan sore dari Singapura. Dengan waktu yang tersisa, karena posisi hotel kami sudah cukup mumpuni, kami berjalan kaki menuju China Town Complex. Dari sana perjalan napak tilas pun kami lakukan. Kami menyusuri Ann Siang Hill yang masih di dominasi oleh restaurant Fine Dining dan beberapa toko high fashion. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyusuri Ann Siang Hill yang cenderung sepi karena saat itu adalah hari Senin.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kami merayakan 10 tahun kebersamaan kami dengan balik kampong bersama. Formasi yang selalu begini sedari awal kami berkenalan hingga traveling bersama sejak kolaborasi kimiawi kami bereaksi. Lokasi: Ann Siang Hill.

Sampai tiba waktunya kami tiba di Terminal 2 Changi Airport. Cuaca cukup cerah dan bersahabat. Perjalanan singkat mengenai sebuah napak tilas, tanpa disadari merupakan perjalanan perayaan 10 tahun persahabatan kami bertiga. Tidak lupa, tax refund adalah sebuah pengingat bahwa kami tidak lagi memiliki kesaktian untuk melakukan scan paspor sendiri ketika berada di negara ini.

Processed with VSCO with hb2 preset
Bye, second home!

Buku Biografi dan Superman is Dead

Ngomong-ngomong soal Superman Is Dead, bisa dibilang saya tumbuh besar dengan lagu-lagu band ini. Saya punya semua rilisan fisik keluaran major label (kecuali album terakhir versi digital) dan album Bad, Bad, Bad. Pertama dengar nama band ini waktu saya masih kelas 3 SMP. Waktu itu sudah ada majalah yang membahas profil band ini.

Beranjak SMA, terbitlah album Kuta Rock City. Tak perlu waktu lama untuk membuat saya hafal semua lagu di album ini. Saya punya CD dan kasetnya. Sampai-sampai, saking seringnya di putar, CD tersebut scratch dan track ‘Musuh Sahabat’ tidak bisa saya nikmati lagi dengan jelas. Selain itu, saya pun rajin membeli majalah-majalah yang memuat profil dan info-info terkini mengenai SID juga rajin nongkrongin MTV yang menjadikan SID sebagai Exclusive Artist of the Month. Tidak lama setelah itu, ahirnya saya berhasil untuk menyaksikan live performance mereka secara langsung di acara MTV Threesome.

Seiring berjalannya waktu, saya rajin browsing-browsing di internet juga rajin beli-beli majalah. Tidak banyak teman semasa SMA saya menyukai SID, terlalu keras (musiknya) katanya. Jadilah saya tidak punya teman untuk berdiskusi.Sampai saya beranjak kuliah di Singapura, saya membawa album Black Market Love dan beberapa majalah yang memuat profil SID. Setelah selang beberapa tahun, terbitlah album Angels & The Outsiders. Sampai dua tahun setelah album tersebut rilis, Green Day mengadakan konser di Singapura.

Hubungannya adalah?

Di hari Green Day konser, SID menggelar gig di sebuah bar  di daerah Clarke Quay. Nama barnya Yello Jello. Sebelum berangkat konser, yang saya pastikan berada di dalam tas adalah tiket konser Green Day dan Cd Angels & The Outsiders. Selesai konser dari Kallang Indoor Stadium, saya naik bis nomor 54 ke Clarke Quay.

Sesampainya disana suasana sudah lumayan ramai, tapi sepertinya SID belum tiba di venue. Mungkin mereka habis nonton Green Day juga, pikir saya waktu itu. Kira-kira hampir satu jam menunggu, acara pun dimulai. Sangat intim. Tidak ada adegan dorong-dorongan. Bahkan saya hanya berjarak dua jengkal dengan Eka Rock.

Beres acara, saya berkesempatan foto bareng personil SID dan meminta untuk melegalisir CD Angels & Outsiders saya. Kemudian acara malam itu saya tuliskan di web yang dibuat oleh para mahasiswa Indonesia di Singapura. Pada saat itu website sempat down beberapa saat karena membludaknya pengunjung. Hal itu terjadi karena Jerinx me-retweet link dari saya.

Satu tahun setelahnya, saya kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahan media yang masih satu grup dengan majalah yang namanya sering disebut di buku Bio SID 20th. Tiga tahun saya bekerja disana dan selalu berharap untuk bertemu SID entah di kantin atau di studio belakang. Tapi nasib saya kurang mujur, saya tidak pernah bertemu mereka di kantor, yang saya temui hanyalah Setia band.

Processed with VSCO with hb2 presetBuku Biografi SID 20th.

Berbicara mengenai buku biografi ini, saya rasanya seperti membaca majalah yang saya baca di tahun 2003. Beberapa kejadian yang dituliskan dalam buku tersebut, saya alami dan menyimak cerita itu pada masanya.Ya.. seperti yang tadi saya tuliskan diatas. Saya tidak butuh waktu yang lama untuk membaca buku ini, begitu buku pesanan saya datang, langsung saya baca habis. Walaupun saya sudah ngantuk karena saya mbak-mbak kantoran yang sudah grabak-grubuk dari pagi. Tapi saya tidak bisa berhenti membaca buku ini sampai halaman terahir. Dan tidak lupa saya memotretnya dengan niat, komplit beserta kembang sebagai properti agar terlihat sedikit kekinian.

Ada dua bagian yang secara pribadi saya suka dalam buku ini. Pertama pada bagian yang menceritakan watak Jerinx yang mudah meledak-ledak kemudian akan meminta maaf jika dirasa perlu. Ketika saya membaca tulisan ini, hanya berbeda satu hari setelah Jerinx upload foto di instagram mengenai band-band dan acara Soundrenaline. Setelahnya, Jerinx pun menunggah foto lagi di Instagram yang berisi permintaan maaf atas postingan sebelumnya. Kedua, cerita tentang sifat Bobby yang sulit tersinggung, selalu cool dan berkepala dingin. Saya hanya berkomentar dalam hati; Virgo banget!

Rasanya saya masih belum puas membaca bukut tersebut. Seperti masih ingin membaca hal-hal lainnya yang belum diceritakan. Hahahaha! Yah semoga sekuel buku ini cepat keluar. Dan semoga saya bisa duduk satu meja dan minum bir dingin (capital, underline, bold dan berwarna merah) bersama para personil SID.

Amin.
Selamat siang, salam olahraga.

Cheers.

Note: ditulis pertama kali pada Rabu, 9 September 2015.