Haji Lane: Terjebak Reputasi Masa Lampau

Kalau waktu gue kuliah sudah ada Instagram dengan Instastorynya, Snapchat beserta filter dan stickernya atau Path, mungkin postingan socmed gue kala itu sudah di penuhi oleh foto ‘ala-ala’ di area Haji Lane, Kampong Glam dan sekitarnya. Bisa jadi setiap hari gue mampir ke kedai-kedai atau toko-toko yang ada di Haji Lane untuk sekedar foto ‘ala-ala’ karena dapat di tempuh dengan berjalan kaki dari kampus.

Processed with VSCO with hb2 preset
Haji Lane dan nostalgia masa lampau.

Saat menyusun itinerary perjalanan balik kampong bersama kedua sahabat gue, yang menjadi salah satu pertanyaan gue adalah “Nanti kita bakal ke Haji Lane gak?”. Dengan sigap sahabat gue yang bernama Didi menjawab dengan cepat “Gue agak males sih ke Haji Lane”.

Ya memang sih kalau di pikir-pikir, bagi kami yang dulu sering mengantar ‘turis’ ke Haji Lane sepertinya bukan merupakan kunjungan wajib (walaupun Haji Lane itu bagian dari napak tilas). Sampai pada akhirnya pembicaraan kami tiba pada kalimat, “Yaudah liat nanti aja sempet ke Haji Lane apa nggak”. Kemudian tiba-tiba salah seorang sahabat gue yang bernama Ayata, mengeluarkan celetukan yang menginspirasi gue untuk membuat tulisan ini.

“Haji Lane terjebak reputasi masa lampau”.

Begitulah tulisan Ayata dalam merespon  percakapan kami di grup Line. Dan tibalah hari dimana kami pada akhirnya menyambangi Haji Lane. Hari kami dimulai tidak terlalu pagi, kami mengunjungi ArtScience Museum di Marina Bay Sands menjelang makan siang. Agenda penting kami hari itu adalah menyaksikan Sigur Ros manggung di Fort Canning Park di malam harinya. Namun kami memiliki banyak waktu luang dari sore hingga malam menjelang.

Kami naik MRT dari Marina Bay, pindah kereta di Raffles Place (dengan pertimbangan lebih sepi daripada City Hall) hingga kemudian pindah lagi ke green line menuju Bugis station. Begitu sampai kami menuju Jalan Pisang untuk foto-foto dengan mural yang ada disana. Namun sayang, Didi tidak dapat bergabung lebih lama karena ia lebih memilih untuk beristirahat di penginapan sebelum menonton konser di malam harinya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Perjalanan napak tilas Haji Lane yang di mulai dari Jalan Pisang. Mural anak cewek yang lagi meluk anak singa ini letaknya di pinggir jalan dan walking distance dari Bugis MRT.

Gue dan Ayata menghabiskan banyak waktu untuk foto di satu spot yang kami anggap menarik. Dari Jalan Pisang kami berlanjut ke area Sultan Mosque. Hari itu ramai pengunjung karena ada bazaar barang-barang second di tengah jalan menuju Bali Lane. Beberapa rombongan turis juga terlihat sedang berbelanja di toko-toko souvenir di Kampong Glam. Kami menyempatkan berkunjung ke toko mainan yang terdapat Cosmic Robot Museum di dalamnya. Namun untuk masuk ke dalam museum, dikenakan admission fee.

Processed with VSCO with hb2 preset
Salah satu toko mainan di Kampong Glam yang banyak menjual mainan jadul layaknya mainan yang di jual abang-abang di depan sekolah. Di dalamnya terdapat Cosmic robot museum yang dikenakan biaya masuk untuk melihat-lihat koleksinya.

Kami tidak terlalu lama di Kampong Glam dan melanjutkan perjalanan menuju Bali Lane. Disini kami berjalan pelan-pelan karena ramai orang yang sedang melihat-lihat bazaar. Cuaca sore itu agak mendung dan membuat kami lebih sigap untuk menyelesaikan tujuan menuju Haji Lane karena takut tiba-tiba hujan.

Processed with VSCO with hb2 preset
Dari Kampong Glam di lanjutkan berjalan kaki melalui bagian belakang Bali Lane. Tempat ini banyak di padati orang untuk foto-foto dengan temboknya. Lokasi ini tepat berada di bagian belakang Blu Jaz.

Setelah melewati kerumunan orang dan bazaar, kami pun harus melewati kerumunan yang lain. Di bagian belakang Bali Lane banyak mural yang bagus untuk spot foto. Gue dan Ayata pun gak mau kalah dan ikutan foto di depan mural tersebut. Beginilah yang terjadi kalau gue hanya jalan berdua, banyak berhentinya karena kurang fokus dengan tujuan utama. Hahahaha!

Processed with VSCO with hb2 preset
Di tengah hiruk pikuk Haji Lane dan sekitarnya, Going Om memancarkan aura zen bagi yang lewat atau pengunjungnya. Samar- samar terdengar alunan lagu Deva Premal dan soothing songs lainnya.

Selain banyak berhenti di berbagai spot menarik untuk foto, kami pun tak tahan untuk tidak memasuki toko-toko yang memiliki display menarik dari luar. Padahal rencana awalnya kami akan berjalan dari ujung ke ujung dan berfoto sebelum hari gelap. Tapi apa boleh buat, rupanya toko-toko tersebut memiliki daya tarik yang tinggi bagi kami berdua.

Processed with VSCO with hb2 preset
Spot foto wajib di depan mural yang terletak di ujung Haji Lane menuju Beach Road.

Cuaca yang masih mendung, meneguhkan hati kami untuk terus berjalan hingga ujung jalan Haji Lane yang mengarah ke Beach Road. Di ujung jalan terdapat mural yang besar dimana belakangan ini mural tersebut banyak menghiasi timeline media sosial. Ketika kami sampai di ujung jalan tersebut, terdapat banyak orang sedang melakukan ‘photoshoot’ di spot mural tersebut.

Nama Beach Road secara instan mengingatkan gue bahwa nama jalan itu pernah menjadi bagian dari masa lalu gue. Kampus gue terletak di 99 Beach Road. Waktu itu gedungnya baru di renovasi karena sebelumnya adalah kantor polisi. Sekarang kampus tersebut sudah pindah ke Clarke Quay dan gedung berwarna orange itu entah sekarang jadi apa. Sempat mendengar kabar beberapa kali dijadikan tempat untuk pameran instalasi seni.

Processed with VSCO with hb2 preset
Jendela yang cukup fotogenik di ujung jalan Haji Lane mengarah Beach Road. Jendela ini letaknya bersebrangan dengan mural yang berwarna-warni.

Dulu tuh ya kalau ada teman yang datang berkunjung, pasti tujuan utamanya Haji Lane dan Ann Siang Hill. Tapi Haji Lane menduduki posisi pertama tujuan wisata para ‘tamu’ ini ketika berkunjung. Bugis Junction biasa kami jadikan meeting point bagi para ‘tamu’ yang ingin berkunjung ke Haji Lane. Biasanya teman-teman kami itu juga punya agenda wajib ke Bugis Junction atau Bugis Street Village.

Processed with VSCO with hb2 preset
Terjebak reputasi masa lampau.

Tidak banyak yang berubah ketika menyusuri sepanjang jalan Haji Lane, hanya beberapa toko yang berganti. Entah karena gue yang sudah terlalu lama nggak ke Haji Lane, atau memang sekarang terdapat lebih banyak bar dan coffee shop di sekitaran Haji Lane. Toko-toko di Haji Lane adalah tipikal toko-toko di Singapura, dalam arti barang fesyen yang di jual bisa dipastikan dijual juga di toko sebelah. Namun barang-barang tersebut tentunya mengikuti tren fesyen yang sedang hits di Singapura.

Processed with VSCO with hb2 preset
Terjebak nostalgia.

Tidak terlalu banyak perubahan membuat jebakan nostalgia berhasil menangkap mangsanya. Haji Lane sampai sekarang masih menjadi tempat favorit untuk jalan-jalan. Baiknya sih tempat ini jangan di lupakan begitu saja. Terutama untuk para mantan ‘akamsi’, jangan bosan-bosan masuk ke dalam jebakan reputasi masa lampau dari tempat ini.

Balik Kampong

Pulang kampung bagi sebagian orang mungkin merupakan sebuah perayaan yang di tunggu-tunggu untuk bertemu dengan kerabat dan sanak saudara. Gue sendiri sepertinya sudah tidak ingat kapan terakhir kali merayakan sebuah momen yang bernama pulang kampung. Sampai ada masanya, sebuah negara tetangga gue jadikan ‘kampung halaman’ untuk sebuah alasan perayaan. Balik Kampong.

Processed with VSCO with hb2 preset
What was it like to grow up in a particular district of Singapore during a specific decade? How can you go for a peaceful walk around your home if the area being constantly remodelled by demolition and construction? How do present perceptions of space contrast with memory?

Empat tahun tinggal di negara orang membuat gue merasa negara tersebut sebagai ‘rumah kedua’ gue. Singapura yang bagi banyak orang merupakan surga belanja memiliki kenyamanan tersendiri buat gue untuk gue jadikan rumah kedua. Memang tidak sedikit dari teman-teman gue yang merasa bosan untuk tinggal di Singapura yang terlihat monoton dan ingin segera kembali ke kota masing-masing di Indonesia. Lebih enak katanya.

Buat gue pribadi walau kehidupan terasa monoton dengan kegiatan yang itu-itu saja, segalanya terasa mudah dan praktis. Dari segi efisiensi waktu, transportasi dan jarak yang bisa dibilang tidak terlalu jauh dari satu tempat ke tempat lain, membuat gue merasa tidak ingin meninggalkan negara ini. Apalagi bagi gue yang waktu itu seorang mahasiswi desain grafis, untuk urusan art supply dan printing semuanya tersedia dengan mudah. Walaupun untuk urusan living cost bisa dibilang cukup tinggi.

Yang gue inget, terakhir kali gue balik kampong dengan gegap gempita adalah di tahun 2012 dalam rangka naik haji menyaksikan Sigur Ros untuk pertama kalinya. Setelahnya di tahun 2013, gue hanya transit beberapa jam saja di Changi. Ya anggap saja sudah empat tahun lebih gue nggak pulang kampung.

Sampai pada suatu hari terdapat sebuah pengumuman penting yang lagi-lagi datangnya dari sebuah band bernama Sigur Ros. Tentu saja hati gue langsung bergejolak membaca pengumuman tersebut. Lebih dari itu gue pun muntah karena terlalu excited dan deg-degan. Padahal waktu itu gue sudah dua kali menyaksikan Sigur Ros secara live. Yasudah anggap saja ini sebuah panggilan ibadah rock (mungkin kalo festival ini nggak ada, gue belum tentu balik kampong).

Setelah diskusi panjang dengan berbagai pihak, akhirnya sudah diputuskan yang akan berangkat hanya kami bertiga; gue dan dua sahabat tandem setia. Alam semesta ternyata menyampaikan maksudnya tanpa banyak bicara, tiga bulan sebelum keberangkatan kami mendapat sebuah kabar gembira. Maskapai nasional Singapura memberi harga promo gila-gilaan untuk tiket pesawat pulang-pergi. Sungguh sebuah perayaan yang mumpuni karena untuk seorang gue, naik SQ adalah salah satu dari list panjang yang terdapat dalam kegiatan hayal babu sehari-hari. Jadilah kami tiga anak  banyak gaya berhasil naik SQ dengan harga promo (yang kalau pakai harga reguler nggak bakal kebeli).

Processed with VSCO with hb2 preset
Outer yang senantiasa gue pakai semasa kuliah masih bertahan hingga sekarang (dulu pakaian gue cukup warna-warni sebelum hitam semua seperti sekarang). Gue sengaja bawa untuk menghayati peran napak tilas. Outer ini gue beli di flea market seharga SGD 10, yang jualan temen gue.

Agenda kami tidak banyak, hanya tempat-tempat ‘penting’ yang kami kunjungi dan ziarahi atas nama napak tilas. Tiong Bahru yang belakangan digadang-gadang menjadi the most hipster place in Singapore, tidak kami lewatkan begitu saja. Terlebih gue dengan sangat berapi-api berniat membeli beberapa buku di Books Actually yang sekarang terletak di Tiong Bahru. Sudah tentu Books Actually ini masuk ke dalam daftar The Most Hipster Places in Singapore (semasa kami masih kuliah, toko buku ini terletak di Ann Siang Hill).

Processed with VSCO with hb2 preset
Books Vending Machine yang terletak persis di depan toko Books Actually berisikan mistery books dengan berbagai range harga.

Selain tidak ingin ketinggalan menyambangi tempat-tempat hits masa kini, kami tentunya tidak lupa untuk napak tilas kuliner. I’m actually not a culinary person yang kudu wajib mencicipi makanan lokal di daerah tertentu, tapi di Singapur gue bisa makan berbagai macam makanan yang ada disana. Mungkin karena rasanya cocok dan pernah menjadi makanan sehari-hari buat gue. Yang maha penting tentunya Iced CoffeeBasically minuman ini adalah percampuran antara kopi hitam dan condense milk, namun buat gue rasanya gak ada yang bisa ngalahin. Untuk di Jakarta sendiri, sangat jarang ditemukan iced coffee dengan rasa yang se-authentic ini.

Karena faktor cuaca yang tidak menentu ditambah saat itu adalah weekend menjelang liburan natal, jalanan di jantung utama kota Singapura sangat ramai. Gue pun gagal menyantap seporsi (atau dua) duck noodle di Bras Basah Complex. Tapi gue cukup terhibur dengan Yong Tau Fu di Food Republic 313 walaupun mereka sudah tidak menyediakan bumbu kacang yang di campur wijen dengan rasa yang sungguh mumpuni dan juga Popiah.

Malam minggu di Orchard Rd tentunya sudah bisa ditebak seperti apa ramainya. Terlebih gerimis masih tidak berhenti hingga malam menjelang. Dari kejauhan gue melihat Thongsia Building sudah tidak berdiri tegak. Sudah ditutupi oleh sejenis plastik berwarna hitam pertanda bangunan tersebut sudah di end block. Bangunan ini letaknya tepat di belakang Al-Falah Mosque dan dapat digapai dengan cara jay walking dari taxi stand Paragon. Thongsia Building ini gue tinggali selama kurang lebih tiga tahun, dengan nomor unit #09-02. Kamar gue adalah sebuah basecamp tempat teman-teman gue ‘transit’, sekedar nongkrong, bikin tugas dan bahkan menginap.

Processed with VSCO with hb2 preset
Salah satu restoran dengan kearifan lokal di tengah hingar bingar bar dan cafe yang terletak di Keong Saik Rd. Menu makanan cukup jelas dengan nama makanan, besarnya porsi dan harga. Tinggal tunjuk saja mau yang mana karena pemilik dan pelayan tidak bisa berbahasa Inggris.

Hari pertama hanya kami habiskan di Tiong Bahru dan Orchard Rd. Malamnya kami memilih untuk makan di sebuah rumah makan lokal yang terletak diantara bar dan cafe. Letaknya hanya beberapa meter dari tempat kami menginap di Keong Saik Rd. Tipe restoran seperti ini kebanyakan dari pekerja dan pemiliknya tidak dapat berbahasa Inggris. Tapi jaminan bahwa rasa makanannya enaknya tiada tara. Kami memilih menu cereal squid dan seafood fried rice.

Processed with VSCO with hb2 preset
Plain Vanilla Bakery, salah satu tempat tersohor di Tiong Bahru yang tentunya berada di deretan teratas dalam Singapore Hipster Place.

Keesokan paginya, Singapura diguyur hujan yang cukup deras. Kami baru memulai hari di siang hari untuk mengunjungi ArtScience Museum di Marina Bay Sands untuk menyaksikan Future World: Where Art Meet Science, instalasi seni digital yang di dominasi oleh permainana tata cahaya, warna dan ilusi optik (itu lho yang orang-orang suka foto diantara kelap-kelip lampu).

img_6908
Salah satu instalasi dengan permainan cahaya yang menari-nari di ArtScience Museum. Musik yang terdengar mengambang membuat perasaan sedikit melayang.

Ini memang hal baru bagi kami, terutama buat gue yang ketika gue back for good tempat ini belum beroperasi. Agenda penting kami hari itu baru berlangsung di malam hari, in between tercetuslah sebuah ide yang mumpuni untuk melakukan ziarah napak tilas. Kami ke Haji Lane. Baru saja kami tiba di Jalan Pisang, Didi, memilih untuk beristirahat di penginapan hingga malam menjelang konser. Demi alasan kesehatan, katanya.

Area Jalan Pisang, Sultan Mosque, Kampong Glam, Arab Street dan Haji Lane tidak begitu banyak perubahan. Hanya beberapa toko dan restoran yang berganti. Sisanya banyak tembok di ruko-ruko yang kini dihiasi oleh berbagai macam mural yang kini menjadi latar untuk sesi ‘photoshoot’ bagi siapapun yang melintasinya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Salah satu mural yang terletak di salah satu gang di area Bali Lane. Lokasinya persis di belakang Blu Jazz.

Setelah puas berjalan-jalan napak tilas di Haji Lane, gue dan Ayata beristirahat sejenak di sebuah Bar yang terletak hampir di ujung jalan Haji Lane untuk menikmati segelas bir dingin. Ketika hari sudah gelap barulah kami beranjak untuk kembali ke penginapan untuk bersiap-siap dan menjemput kawan kami, Didi. Sesudahnya barulah kami berangkat menuju Fort Canning Park untuk menghadiri agenda utama dalam trip kami; menyaksikan Neon Lights Festival. Kami tiba tepat saat Yuna baru menaiki Panggung. Barulah setelahnya, magical moment berlangsung dengan hadirnya Sigur Ros.

Processed with VSCO with hb2 preset
The magical Sigur Ros. Ini kali ketiga gue menyaksikan Sigur Ros dan kali kedua menyaksikannya di Fort Canning Park. Kali ini tidak dilengkapi dengan hujan deras, namun angin bertiup cukup kencang hingga membuat bulu kuduk berdiri.

Tidak seperti kebiasaan kami sehabis nonton konser, malam itu kami tidak menyantap kudapan malam di Spize. Kami memutuskan untuk kembali ke Keong Saik, dan berjalan kaki ke ujung jalan dekat China Town Complex untuk menikmati Sting Ray, La La dan Kerang hijau untuk kudapan malam di Hawker Center setempat. Tentunya hawker center tersebut kaya akan kearifan lokal dimana terdapat bekas kaleng Tiger Beer di meja-meja yang baru saja di tinggalkan pengunjungnya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kearifan lokal: menaruh kulit kerang langsung di meja dan bukan di piring kosong. Menu sharing diatas adalah La La dan Sting Ray.

Hari berganti dan kami hanya punya sedikit sisa waktu sebelum pada akhirnya kami harus bergegas menuju Changi Airport. Namanya juga tiket promo, kami tidak bisa mengatur sesuka hati jam penerbangan kami. Pasrah saja dengan penerbangan sore dari Singapura. Dengan waktu yang tersisa, karena posisi hotel kami sudah cukup mumpuni, kami berjalan kaki menuju China Town Complex. Dari sana perjalan napak tilas pun kami lakukan. Kami menyusuri Ann Siang Hill yang masih di dominasi oleh restaurant Fine Dining dan beberapa toko high fashion. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyusuri Ann Siang Hill yang cenderung sepi karena saat itu adalah hari Senin.

Processed with VSCO with hb2 preset
Kami merayakan 10 tahun kebersamaan kami dengan balik kampong bersama. Formasi yang selalu begini sedari awal kami berkenalan hingga traveling bersama sejak kolaborasi kimiawi kami bereaksi. Lokasi: Ann Siang Hill.

Sampai tiba waktunya kami tiba di Terminal 2 Changi Airport. Cuaca cukup cerah dan bersahabat. Perjalanan singkat mengenai sebuah napak tilas, tanpa disadari merupakan perjalanan perayaan 10 tahun persahabatan kami bertiga. Tidak lupa, tax refund adalah sebuah pengingat bahwa kami tidak lagi memiliki kesaktian untuk melakukan scan paspor sendiri ketika berada di negara ini.

Processed with VSCO with hb2 preset
Bye, second home!

Catatan Kaki 2016

Tahun 2016 berjalan amat cepat dan terasa tanpa jeda. Bulan Januari di tahun 2016 terasa berbeda di banding tahun-tahun sebelumnya. Januari adalah bulan yang terasa amat lama, namun tidak untuk tahun ini. Rasanya baru kemarin gue merasakan matahari terbit di tanggal 1 Januari 2016. Matahari terbit yang disambut dengan gerimis dan kesedihan. Awal yang cukup pahit dan manis. Entah bagaimana gue harus menggambarkan awal tahun 2016 ini. Terlalu absurd untuk menggambarkan apa yang gue rasakan selepas malam tahun baru 2016.

Tahun 2016 berjalan sangat cepat dan dinamis. Gue tidak bisa merunut satu-persatu apa-apa saja yang terjadi dari bulan Januari hingga Desember. Tentunya gue menjalani tahun ini dengan tidak mudah. Tidak melulu berisi kesenangan dan jalan-jalan. Banyak tersimpan problematika dan kesedihan di balik semua foto-foto dan tulisan indah.

I choose to keep my personal matter only to myself. Tidak perlu di sebar luaskan apalagi untuk disantap hangat-hangat di media sosial. I only share happines to all the good people. Mungkin banyak yang mengira gue selalu happy dan nggak pernah bete. Jangan sedih, the hardest part is already covered. Tak perlu dinaikan ke permukan hingga seluruh dunia harus tau. Hey! Im not that self conscious bitch. Yang mana seluruh dunia harus tau segala problematika hidup lo.

Ada hal-hal yang cukup berat yang harus gue lalui tanpa sepengetahuan banyak orang. Pencarian solusi yang cukup memakan waktu dan perasaan perlahan menemukan titik cerah. Seperti yang diajarkan ketika gue belajar menari Saman, “setiap proses itu menyakitkan, namun harus dinikmati untuk menjadi bisa”. Dan sejak itulah, gue selalu menghargai yang namanya proses. Toh makan mie instan juga pake proses (memasak).

Tahun ini gue banyak berkesempatan bertemu dengan banyak orang baru, dan tentunya teman-teman baru yang selalu memberi energi positif. I surround myself with good and positive energy. Sepertinya hanya itu hal terbaik yang dapat gue lakukan to stay sane.
Terlalu banyak memori indah untuk diabadikan di tahun 2016 ini. Segala kejadian dan kenangan buruk, biarlah menjadi bagian sejarah sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.

2016, I’ve learned my lesson. Thank you for the bittersweet memories, the joy, the good times and the bad. 

Processed with VSCO with hb2 preset

Reading Centhini: 4 Kesalahan Fatal Pacar Gw

Disclaimer:

Cerita ini sudah jelas bukan mengenai pacar gw maupun kehidupan percintaan gw.

IMG_1811

“If you are sad, you read Centhini, your sadness will be gone. If you are sick, Serat Centhini gives you the knowledge of natural remedies. If you want to slaughter a buffalo, Serat Centhini tells you the steps. If you want to build a house, Serat Centhini tells you all the calculations of measurements and good dates to build it. If you want to find God, Serat Centhini shows you the way.”

Potongan tulisan di atas adalah salah satu bagian favorit gw dari rekap Reading Centhini: Bukan Cinta Satu Malam. Reading Centhini sendiri adalah sebuah pertunjukkan yang diadaptasi dari buku Serat Centhini. Pertunjukkan ini digagas oleh Agnes Christina yang juga penulis naskah, sutradara, produser, pemain, poster designer, costume designer, dan juga ia pun menjual tiket pertunjukkannya sendiri.

Serat Centhini itu sendiri sesungguhnya adalah salah satu karya sastra terbesar Jawa Baru yang berisi ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial, politik, spiritual dan tata cara hidup. Buku ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dan terdapat sebanyak 12 jilid.Dalam kehidupan sehari-hari, buku ini sering disalah artikan sebagai Kamasutra Jawa. Buku ini dibuat atas kemauan seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV yang kemudian akan bertahta sebagai Sunan Pakubuwono V.

Sekitar tahun 2013, Agnes memiliki peran yang cukup besar dalam membantu gelar pamit yang gw dan teman-teman gw bikin dari komunitas tari tradisional gw saat itu. Agnes menulis naskah untuk transisi pergantian tari yang dibacakan dengan format tembang macapat, juga membantu dalam urusan tata lampu dan properti panggung. Tahun itu project Reading Centhini sudah berjalan, diawali dari pertunjukkan pertamanya di Substation Singapura. Maka, naskah pertunjukkan gw yang bertajuk “Benang Merah” jelas terinspirasi dari Serat Centhini. Selama pre-produksi, pertemuan gw dan Agnes selalu diisi dengan cerita-ceritanya mengenai masa depan Reading Centhini (selain pembicaraan mengenai produksi gelar pamit). Karena pada masa itu pertunjukkannya hanya di tampilkan di Singapura dan beberapa kota di pulau Jawa, gw belum sempat menyaksikan Reading Centhini secara langsung. Gw cuma tau dari Blog, Instagram,Twitter dan dari pesan-pesan Whatsapp Agnes yang suka dia kirimkan begitu saja di waktu-waktu yang tak terduga.

Perkenalan gw dan Agnes terjadi di tahun 2009 ketika kami berdua masih sama-sama kuliah di Singapura. Waktu itu Agnes bertindak sebagai Produser dalam drama musikal Mahabrata yang di selenggarakan oleh anak-anak Indonesia di Singapura per dua tahun sekali baik oleh pelajar maupun profesional. Awalnya gw ngelamar jadi talent manager di acara ini, tapi apa boleh buat, gw di terima sebagai penari yang menari hampir di seluruh scene dalam drama musikal tersebut. Persiapan dilakukan hampir satu tahun, dari situ kami lumayan banyak mengobrol, tapi entah bagaimana ceritanya, kami lebih banyak ngobrol setelah gw for good ke Indonesia. Drama musikal ini (ternyata) memiliki peran penting dalam kehidupan gw sampai sekarang termasuk perkenalan dengan mantan pacar gw (bagian ini boleh diabaikan).

Singkat cerita, ahir Mei 2016 gw berkesempatan menyaksikan Reading Centhini: Suluk Tambangraras di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Cerita dalam judul ini mengisahkan Anak-Anak Sunan Giri dari Kerajaan Mataram yang meninggalkan tanah mereka untuk berkelana. Agnes menggunakan medium lukisan yang dibuat oleh Popok Triwahyudi, Tata lampu yang cukup dramatis dan properti sederhana. Hal yang mencuri perhaian gw dari pertunjukkan ini adalah lagu-lagu dangdut yang dinyanyikan sendiri oleh Agnes komplit beserta jogetan asoy geboynya juga adegan masak mie instant dan memakannya sambil nyanyi dangdut.

Menariknya dari pertunjukkan ini, Agnes membawakanya dalam beberapa layer. Kisah Amongraga di twist dengan kisah kehidupan pribadinya (yang sesungguhnya gw sudah hafal di luar kepala semua cerita tersebut). Cerita tentang seorang perempuan Indonesian Born Chinese menghadapi kerusuhan di tahun 98, cerita nenek moyangnya, cerita tentang perempuan yang nggak bisa menentukan masa depannya sendiri, kisah kegalauan hidup, kisah cinta dan juga masa depan yang ideal menurut seorang Agnes. Gw nggak ada ekspektasi apa-apa tentang pertunjukkan ini, gw cuma mau membayar lunas rasa penasaran gw akan Reading Centhini yang biasanya cuma gw dengar dari Agnes.Pada hari itu, hari Sabtu, keadaan emosional gw sangatlah tidak stabil dan Jakarta diguyur hujan yang cukup deras. Gw baru aja diterpa sebuah kenyataan yang cukup berat dan harus gw terima tanpa perlawanan sedikit pun. Semua cerita kehidupan Agnes yang sudah pernah gw dengar ratusan kali, langsung terasa masuk akal dan gw pun merasa “dekat” dengan apa yang dia rasakan akan problematika kehidupannya tersebut.

Agnes tidak secara terang-terangan menceritakan kehidupan pribadinya. Cerita dibuka dari ia mengenalkan pacarnya yang memilik 4 kesalahan fatal.

IMG_1816

Adegan makan mie instant di sebelah lukisan bergambar pacarnya yang memiliki 4 kesalahan fatal.
  1. Perbedaan usia yang cukup jauh
  2. Beda Agama
  3. Pribumi
  4. Full time seniman

Bagian ini, menurut gw, cara yang menarik untuk adegan pengenalan tokoh karena gw langsung mengingat semua kesalahan fatal si pacar. Kemudian cerita rumitnya kehidupan pun bergulir. Dari mulai bagaimana dia dan keluarganya menyelamatkan diri dan harta benda dari kerusuhan 98, usaha untuk mendapat restu, mengurus surat-surat pengantar dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan bla bla bla yang ribetnya stengah mati, kegalauan mengenai pernikahan beda agama dan ras dan seterusnya dan seterusnya. Akan tetapi, kisah ini tidak ia selesaikan sampai tamat. Penonton dibiarkan menggantung tanpa tau apakah Agnes berhasil melangsungkan pernikahannya atau tidak, bagaimana Agnes menyelesaikan masalah perbedaan agama, apakah dia pulang ke rumah ibunya kembali atau tidak dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

My personal favorite quotes from Reading Centhini: Suluk Tambangraras:

  1. “Hari ini 18 tahun yang lalu gw pulang ke rumah dari hotel setelah kerusuhan reda. Entah gimana caranya gw selamet sampe rumah, mungkin tanpa gw sadari, gw diperkosa di tengah jalan.”
  2. “Gw selalu mencari waktu yang tepat untuk ngasih tau orang tua gw, tapi yang namanya waktu, nggak pernah tepat”
  3. “Maaf itu mahal harganya”

Moral of the story:

Di luar sana, banyak orang yang kisah hidupnya lebih pelik dari kita. Terutama masalah percintaan. Jadi, buat loe-loe semua yang merasa galau akan kehidupan, santai aja, bro, sist. Temen kita banyak! Semangat.

IMG_1803

Selamat ngabuburit dan salam olahraga.

 

Setiap Kita Adalah Mantan Bagi Orang Lain

Kadang banyak yang nggak sadar kalo setiap kita adalah mantan bagi orang lain. Kecuali kalo kita belum pernah pacaran sama sekali. Udah nggak asing lagi kalo banyak dari kita suka mejelekkan mantan (hayo ngaku!), padahal (sekali lagi) kita sendiri adalah mantan bagi orang lain.

Kata mantan terkadang sungguh fragile artinya bagi sebagian orang. Kadang ada yang langsung pengen muntah pelangi ketika menyebut kata mantan, kadang ada juga yang langsung baper teringat kisah masa lalu, kadang ada yang belum juga move on (mungkin jenis orang seperti ini musti belajar dari Aurel Hermansyah circa 2012) dan ada juga yang suka ngomongin mantan karena baginya mantan itu biasa saja; bukan hal yang musti dimuntahin atau di baper-in atau ditangisi atau di jorogin ke kolam ikan julung-julung.

Ada hal yang cukup menggelitik pikiran saya tentang mantan belakang ini (tulisan ini dibuat bukan untuk mengenang mantan saya, red). Beberapa waktu yang lalu, saya pergi makan sore (karena sudah lewat jam makan siang dan belum juga menjelang makan malam) di sebuah Food Court. Saya bertemu dengan dua orang teman. Saya lupa bridging awalnya sampai tiba-tiba dua orang teman saya ini mengangkat topik mantan.

Kami bertiga setuju dengan statement “it’s okay to be in a relationship with your ex’s bestfriend”. Kenapa mereka mendukung statement ini? Baru-baru ini, teman kami berada di posisi statement tersebut. Kalo dipikir-pikir, sepertinya terjadi ke-awkward-an yang super duper mega lebay adanya. Mungkin hal ini hanya terjadi di awal. Tapi nyatanya mereka semua masih menjalin pertemanan dengan rukun dan damai. Berdasarkan pengakuan salah satu teman kami, mereka memang merasa awkward di awal. Kemudian, yasudah. Semua berjalan biasa saja dengan apa adanya. Why? They simply don’t give a shit dan sama-sama sudah dewasa. Toh udah nggak ada hubungan apa-apa lagi diantara para mantan tersebut.

Bagi saya, sesungguhnya, ini bukan hal baru. Karena saya sudah pernah melihat secara langsung (bahkan proses dimulainya) circumstances seperti ini saat saya masih SMA. Bahkan waktu kuliah pun hal ini kejadian lagi.

Kemudian, saya dan kedua teman saya ini pun membahas lebih lanjut. Kami menganggap bahwa tidak ada hal yang salah dari keadaan seperti ini. All is fair in love and war. Witing tresno jalaran seko kulino.

Justru (menurut kami) pelakunya itu sendiri yang terkadang membuat rumit. Ada yang melawan perasaannya sendiri dan ada yang sok tegar gak pengen ada di situasi seperti ini padahal sebenernya mah mau banget. Bagi kami orang luar yang melihat, sesungguhnya kami tidak terlalu peduli. Toh yang menjalani adalah mereka-mereka yang ada di dalam situasi tersebut.

Kesimpulannya adalah, it’s okay to be in this circumstances. Silahkan menjalani bagi yang menunaikan. Kami sebagai penonton hanya menerima insight dari kegiatan ini. Hahahaha. Ya begitulah.

Sekali lagi, setiap kita adalah mantan bagi orang lain. Gak perlu nge-judge bla bla bla. Santay aja, Bro!

Pesan Singkat Dini Hari Mengenai Senja

Seorang kawan lama mengirim pesan singkat tepat pada pukul sepuluh malam.

“Terima kasih ya infonya”

Sepertinya ia baru saja membaca info yang saya berikan mengenai sayembara puisi. Seorang kawan lama. Seorang penulis yang cukup filosofis. Hobinya menghirup aroma kopi yang baru di seduh dan membiarkannya hingga agak dingin baru kemudian di minum perlahan.

Pesan singkat itu pun kemudian dibalas.

“Apa kabar? Sudah lama kita tidak ngobrol panjang dan berbicara tentang senja”

Lama sekali tak ada balasan.Hingga ahirnya sekitar pukul dua dini hari, munculah rentetan pesan singkat. Jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

“Kehidupan biasa saja. Setiap hari jatuh cinta saja”

“Senja, ya?”

“Tetap indah, bukan?”

“Selalu begitu”

Beberapa jam kemudian, tepat sebelum matahari terbit pesan tersebut dibalas.

“Bagaimana jika kita mengobrol panjang lebar sambil menikmati senja?”

Kemudian pesan terahir itu pun tak terbalaskan.